kreatif itu susah ?

Mentok ?
Ga ada ide ?
Kosong, hampa ?

Senantiasa, setiap kali kata-kata itu keluar di pikiran kita, yang ada selalu saja menyalahkan diri sendiri.

Ach, ga kreatif !!!

Padahal ide bertebaran dimana-mana. Mengutip tagline iklan minuman soda, “kapan saja, dimana saja” ide itu selalu ada.

Hanya kita tak menyadari kehadiran ide-ide cemerlang secara tak sengaja. Sayangnya, kita tak mampu untuk menuliskan atau mencatat ide yang datang tiba-tiba yang sebenarnya suatu saat yang tepat akan menjadi hal yang bombastis.

Jurus pertama, Sigap !!!

Ya, saat ide tiba-tiba datang langsung catat, dan diwaktu luang kita pikirkan kembali yang kemudian mampu kita jadikan rencana kerja untuk dieksekusi secara matang.

PROFESIONALITAS ?

Ehm, dari sebuah diskusi di meja kotak bersama seorang rekan kerja, tercetus kata-kata profesionalisme dalam bekerja dan pekerja berkarya.

Dari perbincangan yang terjadi yang dimulai dengan keluhan dirinya mengenai kejadian yang baru dialami sebagai sebuah kontraproduktif stimulus.

Ternyata, di sebuah perusahaan besar masih adanya penerimaan karyawan yang berdasarkan kekerabatan dan kedekatan emosional. mungkin hal tersebut ridaklah menjadi masalah kala seseorang yang direkomendasikan memiliki kemampuan dan watak berfikir bukan pekerja tetapi karya – wan.

ya, seorang yang berada di levelan sub manager seharusnya memiliki watak kerja yang credible tetapi tidak mbosy (bergaya bos-pen). seakan – akan kedudukannya merupakan sebuah tahta yang harus dihormati.

ini sebaliknya, mengaku sebagai seorang bos tetapi tidak didukung oleh kapabilitas yang mumpuni, pengetahuan dasar yang multi output hingga komunikasi organisasional yang paten.

Sayangnya, dalam keadaan seperti itu, orang yang diceritakan, tidak mau belajar dan mengkomunikasikan segala sesuatunya secara team work.

Dari perdebatan yang terjadi itu pula, saya sebagai seorang pion di sebuah perusahaan broadcast hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada serta hanya mampu berkata : Ya begitu dech…

Terjadilah perbedaan cara pandang dan menimbulkan sebuah pertanyaan yang baru lagi, Ketika kita bekerja, apakah sekedar bekerja menuruti jadwal dan penugasan dan menunggu gaji siakhir bulan sebagai “penghargaan” terhadap hasil pekerjaan kita.

Ataukah disaat kita berkecimpung di suatu perusahaan (apapun itu), kita benar-benar mengimplementasikan seluruh kemampuan kita dengan output sebuah masterpiece yang lahir dari alam raya ide kita.

Mungkin, dunia penuh warna dan kepala kita beda.

Ruang kerja. 1 April 2008. eginamakoe. 14.30 bbwi