PARTAI KOTOR

Menjelang tahun 2009, suhu politik telah memanas. Berbagai Partai politik sudah bersiap diri menuju medan peperangan. dari konsolidasi internal, safari politik, kampanye terselubung melalui iklan instansi yang menjual tokoh sentralnya hingga hujan pamflet di berbagai pelosok serta hutan baliho yang bertebaran.

Sebagai kereta politik, sebuah partai menjadi gerbong penarik massa. Jualan yang sangat keras (pilih saya) hingga yang lebih halus (efek ketokohan sebagai manusia penyelamat) menarik untuk dibicarakan .

Sayangnya, hal kecil mereka tidak mampu melihat, ibarat sebuah pepatah, semut di seberang lautan terlihat tetapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat.

Berantas korupsi, menciptakan lapangan pekerjaan, ekonomi kerakyatan hingga pemabangunan fasilitas rakyat yang manusiawi menjadi salah satu tagline yang dipilih oleh berbagai politikus untuk menarik simpati masyarakat.

Satu aspek kecil dan sangat kecil tidak menjadi perhatian bagi mereka SANG ORANG BESAR.

Bagaimana bisa mereka yang menjanjikan perubahan hanya bisa mengotori jalanan dengan spanduk yang penataannya tidak beraturan, Spanduk yang menutupi papan penunjuk jalan, Bendera yang yang dipasang di lampu – lampu jalanan, hingga pamflet yang dilem sembarangan di tembok – tembok perumahan dan dipaku d pohon – pohon peneduh.

Pengakuan sebagai partai yang bersih jelas – jelas mengotori lingkungan, mengganggu ketertiban umum.

Bisakah mereka mengatur dirinya sendiri sebelum mengatur diri orang lain ( masyarakat atau negara)

Semoga mereka tersadar dari mimpi yang sempurna.

Iklan