relasi iklan dan politik

Korelasi Antara Dunia Politik Dengan Periklanan

(Eginamakoe, adi_negara@plasa.com, X-Pressi Class)

Sebelum kita menelaah lebih jauh apa korelasi antara dunia politik dengan dunia periklanan ada baiknya kita memaparkan terlebih dalulu apa itu dunia politik dan apa itu dunia periklanan. Sehingga kita bisa secara bersama-sama mengambil sebuah benang merah sebagai sebuah korelasi antara kedua dunia tersebut.

 

A. Dunia Politik

Secara garis besar politik adalah suatu cara atau usaha untuk mencapai suatu tujuan atau kepentingan baik itu secara individu maupun kelompok. Dan dalam prosesnya maka pelaku-pelaku politik itu akan berusaha agar tujuan atau kepentingannya tercapai, mulai dari melobi, mempengaruhi, hingga yang paling kotor sekalipun (intimidasi), selama orang atau kelompok tersebut mempunyai posisi bargaining yang kuat.

Dalam hal ini lobi dalam dunia politik bisa berbentuk apa saja. Keberhasilan sebuah lobi sangat penting sekali artinya dalam dunia politik, selain untuk menjaga suatu hubungan , juga jika lobi itu berjalan dengan baik maka dan negosiasinya pun lancar maka sebuah konsensi pun akan tercapai. Adalah hal wajar dalam dunia politik ketika terjadi deal-deal tertentu dalam proses lobi dan negosiasi.

Setiap orang atau kelompok dalam dunia politik tentunya mempunyai program-program tertentu, baik program internal maupun eksternal, yang akan mereka tawarkan kepada khalayak. Untuk memperjelas hal tersebut maka kita ambil sebuah contoh dari partai politik dalam upayanya untuk memenangkan program yang mereka miliki. Dalam gerakannya sebuah partai politik biasanya akan mengirimkan kader-kadernya untuk mengorganisir massa, baik itu petani, buruh atau sektor rakyat yang lainnya. Dalam proses pengorganisiran tersebut setiap kader yang ditugaskan akan menawarkan program-program yang ditentukan oleh partainya, dalam tahapan ini para kader tersebut akan melakukan sebuah diskusi umum terlebih dahulu sebelum masuk kedalam diskusi yang sebenarnya, yaitu diskusi program. Dalam diskusi ini akan terjadi sebuah proses pembelajaran antar peserta diskusi. Dengan media diskusi ini para kader akan berusaha untuk mempengaruhi pemikiran para peserta diskusi agar mereka mau menerima program-program yang ditawarkan. Tentunya hal ini sangat memungkinkan karena para kader tersebut memiliki landasan teoritis yang kuat. (agar permasalahan tidak begitu melebar maka disini kita hanya akan melihat sebuah proses yang mungkin memiliki sebuah korelasi pada nantinya dengan dunia periklanan, oleh karena itu tidak dilakukan sebuah analisis yang mendalam dan terstruktur). Selain teknik pengorganisiran yang disebutkan diatas, perlu juga dipertimbangkan bagaimana sebuah proses kampanye sebagai korelasi dengan dunia periklanan.

 

B. Dunia Periklanan

Pada tahapan awal, jauh sebelum sebuah iklan di sepakati oleh klien (pengiklan), maka kita akan melihat bagaimana para AE (Account Executive) berusaha menjaga hubungan dengan para klien, sementara para Junior AE menawarkan proposal-proposal kepada klien. Dan dalam proses tersebut para AE akan melakukan sebuah lobi agar hubungannya dengan klien terjaga. Dalam dunia periklanan melobi dan menjaga hubungan dengan klien adalah hal yang semestinya.

Ketika sebuah ide telah disepakati oleh tim kreatif maka tugas AE untuk mempresentasikan iklan tersebut ke hadapan para klien, dengan kata lain presentasi adalah sebuah proses meyakinkan, mempengaruhi klien bahwa ide iklan tersebut memang pantas untuk produknya.

Fungsi iklan sendiri secara sederhana adalah untuk mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk yang diiklankan. Itulah kiranya beberapa paparan sederhana yang mungkin pada nantinya dapat kita tarik sebagai benang merah antara dunia politik dengan dunia periklanan.

 

 

 

C. Korelasi antara Dunia Politik dengan Dunia Periklanan

Korelasi antara Dunia Politik dengan Dunia Periklanan adalah bahwa; yang pertama, dunia politik dan dunia periklanan sama-sama memiliki produk yang ditawarkan kepada khalayak, hanya saja produk dalam dunia politik adalah berupa program-program (program kerja atau isu). Sementara dalam dunia periklanan berupa produk dalam artian sesungguhnya (ekonomi), baik itu berupa barang atau jasa.

Yang kedua adalah dalam proses penawaran tersebut terjadi proses mempengaruhi sikap khalayak terhadap yang ditawarkan sehingga diharapkan khalayak akan tertarik. Dalam dunia periklanan, memperngaruhi konsumen dengan menggunakan berbagai media, sedangkan dalam dunia politik proses mempengaruhi tersebut kalaupun menggunakan media hanya akan menggunakan media lini bawah, sedangkan media lini atas hanya akan bersifat sebagai publisitas, dan pada momen-momen tertentu (pemilu) maka partai politik baru akan mengiklankan dirinya walaupun hanya sebagian. Dan dalam proses mempengaruhi dalam dunia periklanan tidak secara personal tetapi dengan membombardir konsumen dngan menggunakan media, baik itu media lini atas maupun media lini bawah.

Bila kita coba melihat ke luar dari proses-proses yang telah dipaparkan di atas, dan mencoba melihat apa kemungkinan kerja sama yang dapat terjadi antara dunia periklanan dan dunia politik, maka kita akan mendapatkan bahwa dunia politik tidak lepas dari dunia periklanan, karena pada momen-momen tertentu partai-partai politik tersebut akan mendatangi biro-biro iklan sebagai pengiklan yang akan mengiklankan dirinya.

Lalu apakah setiap kebijakan dalam dunia politk mempunyai implikasi yang besar terhadap dunia periklanan? Tentu saja iya. Karena sesungguhnya setiap kebijakan dalam dunia politik mempunyai implikasi terhadap semua sektor kehidupan bukan hanya periklanan. Untuk melihat seberapa besar implikasinya terhadap dunia periklanan maka kita ambl sebagian contoh, dari kebijakan yang dilakukan pada tahun 1981. melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No. 30/ 1981 tanggal 1 April 1981 yang menutup sama sekali siaran iklan di televisi. Tentunya membuat masyarakat periklanan kalang kabut dan mencari alternatif lain yang dapat digunakan (media) untuk merebut perhatian khalayak.

Itulah mengapa sebabnya dunia periklanan memiliki korelasi yang kuat dengan dunia politik, selain dilihat dari konsep kedua dunia tersebut juga dilihat dari kerja sama antara organisasi politik dengan biro iklan, dan implikasi dari kebijakan-kebijakan yang diambil dalam dunia politik.

iklan penghalusinasi

Iklan : Penghalusinasi

Oleh: eginamakoe

Kapitalisme, dalam pemaknaan akumulasi modal dalam mendistribusikan hasil produksinya menggunakan media periklanan sebagai alat yang mengkampanyekan produk tersebut kepada khalayak.

Dengan kreatifitas yang imajinatif maka disebarkanlah “suara-suara” produksi ke tengah-tengah masyarakat. Berbagai produk membanjiri pasar hingga sebuah produk yang sama kegunaannya namun beragam merek menjadi pilihan khalayak.

Iklan, secara sporadis menyerang pola berfikir manusia dan mengakibatkan abrasi kebudayaan menyeret kepada budaya konsumtif.

Tak heran bila ada pepatah besar pasak daripada tiang. Ironinya, masyarakat seakan-akan terhipnotis hingga bila ada produk baru keluar, maka dengan cepatnya masyarakat mendatangi store yang menjual produk baru tersebut.

Iklan merupakan senjata paling ampuh dalam membujuk masyarakat untuk membeli sebuah produk dikarenakan dalam media periklanan diterapkan sejumlah teori psikologi hingga stimulus yang tersirat dalam sebuah iklan dapat cepat merangsang proses berfikir, bukan lagi proses berfikir individu namun kolektif.

Sisi negatif dari iklan-iklan yang berseliweran di berbagai media baik cetak maupun  elektronik, ada beberapa hal yang patut kita kritisi dari periklanan. Terkadang iklan-iklan yang ada tidak mengindahkan kajian etis dan estetis serta selalu berlindung dalam jubah seni, menampilkan bintangnya dengan busana dan gaya seronok memiliki dampak negatif bagi moral masyarakat.

Tragis, pengawasan publik untuk menseleksi iklan-iklan yang memiliki dampak negatif baik secara implisit maupun eksplisit sangat lemah. Pengawasan individu maupun kelembagaan dapat dikatakan tidak ada, maka sangat mungkin pesan komersial yang miskin kreatifitas tersebut menjadi bebas bermain di berbagai dan beragam media massa.

Memang, masyarakat kita belum mampu menganalisa penyajian iklan dengan pesan-pesan tersirat, namun bila kesederhanaan penyajian iklan dikolaborasikan dengan kaidah etis dan estetis maka pengkaburan makna seni pun tidak akan terjadi.