Antara Minuman dan Dangdut

Minuman keras apapun namamu

tak akan kureguk lagi

dan tak akan kuminum lagi

walau setetes

Dahsyat benar lagi dari Bang Rhoma Irama untuk sedikit memberikan nuansa kesadaran dalam sebuah replika kenyataan masyarakat yang diangkat ke dalam syair Miranstika.

Kenyataan yang berputar di keseharian penghuni republik kita tercinta ini dengan harum alkohol dan lenggak – lenggok saweran. Dangdutlah sebagai porosnya di pojok – pojok kampung, di kegelapan malam yang diterabas oleh bus malam dan truk – truk berukuran besar di wilayah pantura hingga kerlap – kerlip kafe metropilitan.

Entahlah…mungkin melalui sedikit sentuhan alkohol, nuansa musik bisa merasuki jiwa penggemarnya dengan nada – nada yang tertuang mengiringi syair pelipur lara sebagai obat kesesan ekonomi masyarakat bawah.

Tak lepas juga dari para pelaku dangdut itu sendiri dengan glamor dan terkadang terlihat norak dan memaksakan diri hingga pencitraan negatif pun secara kuat dan dengan arus kuat merangsek dangdut dan dunianya.

Sampai kapankah dangdut kita sebagai Music of my country ( Project Pop) ini naik kelas?

Inulkah Jawabannya ?

Iklan