karena rasa bersalah

Sebagai manusia, setiap harinya kita pernah dan atau melakukan kesalahan. Baik disengaja ataupun tidak.
Kesalahan – kesalahan tersebut bisa berupa prilaku dan kata-kata.
Karena kesalahan – kesalahan tersebut, di dalam hati dan pikiran kita, ada rasa yang terbentuk.
Rasa tersebut akan menjelma menjadi bom waktu yang menghitung mundur dan siap meledak dengan dahsyatnya apabila kesalahan yang telah diperbuat tidak diperbaiki sama sekali.
Menjadi sebuah pilihan bagi kita, memperbaiki kesalahan dengan seksama atau menjalankan dan melupakannya.

Iklan

citra bergantung nasib

Pencitraan bagi publik figure merupakan satu hal yang mutlak harus ditata dan dikelola secara matang, profesional, terukur dan terarah.
Karena, aktifitas pencitraan ini merupakan sebuah investasi jangka panjang dan menjadi sebuah kapital yang tersentralisir di ruang pemikiran, prilaku, perkataan dan perbuatan para publik figure.
Pemeliharaan CITRA ini memang tidak mudah, karena harus benar-benar mendengar suara-suara masyarakat, pastinya, kehidupan privasi menjadi sedikit baik secara kualitas dan kuantitas.
MElakukan tindakan negatif, merusak nama baik, menjadi bumerang di waktu-waktu mendatang.

Positif diri

Membuka ruang diri menjadi kewajiban bagi kita semua. Membangun persepsi yang positif agar bisa melekat dalam setiap langkah, pembawaan, karakter dan prilaku.
Tahapan – tahapannya sebenarnya tergantung akan situasi dan kondisi secara obyektif yang terjadi di keseharian kita.
hal tersebut didasari atas :
1. Keikhlasan
2. “merasakan” sesuatu secara positif
3. ” memikirkan” sesuatu secara positif
4. ” melakukan” sesuatu secara positif
5. ” membangun ” tujuan yang positif
Dasar – dasar tersebut dituangkan kedalam setiap pikiran dan langkah kita setiap harinya.
Pastinya, terlaksana dalam koridor obyektifitas yang menghilangkan ” subyektifitas.

simbol – simbol

Perkembangan teknologi saat ini mampu membuat transformasi oleh pikir manusia dengan penggambarannya yang sangat konstruktif. Hal ini ditengarai adanya beragam kemungkinan dari saluran pesan untuk memberikan efek dan pengaruh di masyarakat dalam proses penanaman nilai, moral serta pembangunan karakter.

Fotografi yang merupakan hasl dari produk teknologi visual, disetting dengan sedemikian rupa hingga mampu memberikan nafas baru dalam penyampaian informasi. Mekanisme yang dibangun oleh fotografi dalam teknik penyampaian informasinya melalui ekspresi dari suatu kenyataan yang diwujudkan dalam bentuk tanda- tanda, symbol serta bahasa yang tersirat.

Tanda – tanda yang diberikan oleh foto tercetak merekronstruksi pesan untuk menguatkan kenyataan yang ditampakkan. Pesan tersebut mengalir dengan apa adanya hingga mampu mengkaitkan emosi yang melihat.

Pergeseran ini selaras dengan pernyataan dari Roland Barthes, seorang ahli komunikasi yang beraliran semiothological theory, bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

Asumsi – asumsi pada sebuah foto direkonstruksi melalui ekspresi obyek pada satu waktu untuk melintasi kenyataan dan memaparkan bahasa yang mampu diterima oleh masyarakat sebagai khalayak komunikasi.

Tanda & Simbol sebagai bahasa

Era digital, dapat dikatakan seperti itu, yang berkembang saat ini menjadikan restrukurisasi olah informasi dan pandangan serta keinginan yang mekanis serta terstruktur.

Susunan simbol – simbol ini mengupayakan sebuah konstitusi pesan dengan pemyampaian non verbal. Aktifitas dari visual teknologi ini mampu mendobrak mekanisme komunikasi khalayak yang konvensional, menggeser kemampuan bahasa verbal serta mendayagunakan efektifitas symbol.

Symbol – symbol ini terwujud dengan penampakan dari ekspresi pada lintasan waktu. Perwujudan tersebut mewakili tempat, waktu dan dinamika yang bergerak pada perkembangan masyarakat tertentu.

Sangat miris memang, pergeseran kata dan bahasa yang digunakan selama berabad – abad diruntuhkan dengan cepat di era digital. Namun ruang komunikasi digital ini memiliki dampak yang sangat maju dengan menegasikan batas – batas demografis, relung kesadaran suatu kelompok serta entitas kesukuan yang diwakili bahasanya masing – masing.

Persepsi simbol dan tanda dari suatu foto yang pesannya diproduksi secara massal memastikan jadi persepsi umum, persepsi khalayak. Rezim teknologi visual mengkomunikasi keinginan penyampai untuk khalayaknya beraliasi dalam kampanyenya.

Maka, kepastian dari kemunculan teknologi visual ini adalah rezim baru dari masyarakat, dengan kekuasaannya dalam merekonstruksi pesannya yang secara detruktif mampu menginspirasikan informasi gambar menjadi persepsi umum.