Dilepas SAZA

Banyak pasangan yang berebut porsi untuk memiliki. Banyak pasangan yang berkeluh kesah karena salah satu pihak lebih dominan untuk mengatur. mengikat dan tak pernah mau mengerti.

Banyak pula pasangan yang menjalankan hubungan dengan berat hati, seakan – akan hubungan tersebut bak pertarungan di arena balap mobil. penuh ketegangan, tikungan mematikan hingga celaka dua belas.

Nasib !? Bukan pastinya.

Biasanya, hubungan yang dijalani tak pernah ada hiasan komunikasi mendalam dengan sentuhan – sentuhan humanis. Yang ada, kekasihnya dianggap robot mainan yang siap menjalankan berbagai perintah dengan memencet satu tombol saja.

Ehm, mungkinkah hal itu dianggap memadu kasih, saling menyayangi bahkan penuh rasa cinta ? Apakah derita harus terus menerus diterima hanya karena dipengaruhi rasa takut kehilangan.

Dilepas SAZA. ya, bagi kekasih yang memiliki hasrat possesif, lepaskanlah hasrat itu secara perlahan. Lepaskan rasa takut kehilangan. Lepaskan rasa memiliki yang terlalu berlebihan. Karena kekasihmu itu bukanlah robot.

Jadikan ikhlas sebagai sebuah metode dalam mencintai.

Menerima kekurangan dan berbagi kelebihan.

Akankah ?

Iklan

Antara Minuman dan Dangdut

Minuman keras apapun namamu

tak akan kureguk lagi

dan tak akan kuminum lagi

walau setetes

Dahsyat benar lagi dari Bang Rhoma Irama untuk sedikit memberikan nuansa kesadaran dalam sebuah replika kenyataan masyarakat yang diangkat ke dalam syair Miranstika.

Kenyataan yang berputar di keseharian penghuni republik kita tercinta ini dengan harum alkohol dan lenggak – lenggok saweran. Dangdutlah sebagai porosnya di pojok – pojok kampung, di kegelapan malam yang diterabas oleh bus malam dan truk – truk berukuran besar di wilayah pantura hingga kerlap – kerlip kafe metropilitan.

Entahlah…mungkin melalui sedikit sentuhan alkohol, nuansa musik bisa merasuki jiwa penggemarnya dengan nada – nada yang tertuang mengiringi syair pelipur lara sebagai obat kesesan ekonomi masyarakat bawah.

Tak lepas juga dari para pelaku dangdut itu sendiri dengan glamor dan terkadang terlihat norak dan memaksakan diri hingga pencitraan negatif pun secara kuat dan dengan arus kuat merangsek dangdut dan dunianya.

Sampai kapankah dangdut kita sebagai Music of my country ( Project Pop) ini naik kelas?

Inulkah Jawabannya ?

simbol – simbol

Perkembangan teknologi saat ini mampu membuat transformasi oleh pikir manusia dengan penggambarannya yang sangat konstruktif. Hal ini ditengarai adanya beragam kemungkinan dari saluran pesan untuk memberikan efek dan pengaruh di masyarakat dalam proses penanaman nilai, moral serta pembangunan karakter.

Fotografi yang merupakan hasl dari produk teknologi visual, disetting dengan sedemikian rupa hingga mampu memberikan nafas baru dalam penyampaian informasi. Mekanisme yang dibangun oleh fotografi dalam teknik penyampaian informasinya melalui ekspresi dari suatu kenyataan yang diwujudkan dalam bentuk tanda- tanda, symbol serta bahasa yang tersirat.

Tanda – tanda yang diberikan oleh foto tercetak merekronstruksi pesan untuk menguatkan kenyataan yang ditampakkan. Pesan tersebut mengalir dengan apa adanya hingga mampu mengkaitkan emosi yang melihat.

Pergeseran ini selaras dengan pernyataan dari Roland Barthes, seorang ahli komunikasi yang beraliran semiothological theory, bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

Asumsi – asumsi pada sebuah foto direkonstruksi melalui ekspresi obyek pada satu waktu untuk melintasi kenyataan dan memaparkan bahasa yang mampu diterima oleh masyarakat sebagai khalayak komunikasi.

Tanda & Simbol sebagai bahasa

Era digital, dapat dikatakan seperti itu, yang berkembang saat ini menjadikan restrukurisasi olah informasi dan pandangan serta keinginan yang mekanis serta terstruktur.

Susunan simbol – simbol ini mengupayakan sebuah konstitusi pesan dengan pemyampaian non verbal. Aktifitas dari visual teknologi ini mampu mendobrak mekanisme komunikasi khalayak yang konvensional, menggeser kemampuan bahasa verbal serta mendayagunakan efektifitas symbol.

Symbol – symbol ini terwujud dengan penampakan dari ekspresi pada lintasan waktu. Perwujudan tersebut mewakili tempat, waktu dan dinamika yang bergerak pada perkembangan masyarakat tertentu.

Sangat miris memang, pergeseran kata dan bahasa yang digunakan selama berabad – abad diruntuhkan dengan cepat di era digital. Namun ruang komunikasi digital ini memiliki dampak yang sangat maju dengan menegasikan batas – batas demografis, relung kesadaran suatu kelompok serta entitas kesukuan yang diwakili bahasanya masing – masing.

Persepsi simbol dan tanda dari suatu foto yang pesannya diproduksi secara massal memastikan jadi persepsi umum, persepsi khalayak. Rezim teknologi visual mengkomunikasi keinginan penyampai untuk khalayaknya beraliasi dalam kampanyenya.

Maka, kepastian dari kemunculan teknologi visual ini adalah rezim baru dari masyarakat, dengan kekuasaannya dalam merekonstruksi pesannya yang secara detruktif mampu menginspirasikan informasi gambar menjadi persepsi umum.

PROFESIONALITAS ?

Ehm, dari sebuah diskusi di meja kotak bersama seorang rekan kerja, tercetus kata-kata profesionalisme dalam bekerja dan pekerja berkarya.

Dari perbincangan yang terjadi yang dimulai dengan keluhan dirinya mengenai kejadian yang baru dialami sebagai sebuah kontraproduktif stimulus.

Ternyata, di sebuah perusahaan besar masih adanya penerimaan karyawan yang berdasarkan kekerabatan dan kedekatan emosional. mungkin hal tersebut ridaklah menjadi masalah kala seseorang yang direkomendasikan memiliki kemampuan dan watak berfikir bukan pekerja tetapi karya – wan.

ya, seorang yang berada di levelan sub manager seharusnya memiliki watak kerja yang credible tetapi tidak mbosy (bergaya bos-pen). seakan – akan kedudukannya merupakan sebuah tahta yang harus dihormati.

ini sebaliknya, mengaku sebagai seorang bos tetapi tidak didukung oleh kapabilitas yang mumpuni, pengetahuan dasar yang multi output hingga komunikasi organisasional yang paten.

Sayangnya, dalam keadaan seperti itu, orang yang diceritakan, tidak mau belajar dan mengkomunikasikan segala sesuatunya secara team work.

Dari perdebatan yang terjadi itu pula, saya sebagai seorang pion di sebuah perusahaan broadcast hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada serta hanya mampu berkata : Ya begitu dech…

Terjadilah perbedaan cara pandang dan menimbulkan sebuah pertanyaan yang baru lagi, Ketika kita bekerja, apakah sekedar bekerja menuruti jadwal dan penugasan dan menunggu gaji siakhir bulan sebagai “penghargaan” terhadap hasil pekerjaan kita.

Ataukah disaat kita berkecimpung di suatu perusahaan (apapun itu), kita benar-benar mengimplementasikan seluruh kemampuan kita dengan output sebuah masterpiece yang lahir dari alam raya ide kita.

Mungkin, dunia penuh warna dan kepala kita beda.

Ruang kerja. 1 April 2008. eginamakoe. 14.30 bbwi

KITAB PERADABAN

Kitab Peradaban

balikin oh oh balikin
kehidupanku yang seperti dulu lagi
balikin oh oh balikin
kebebasanku yang seperti dulu lagi
(Slank – Balikin)

Syair tersebut cukup menggugah pemikiran. Memiliki relasi yang sangat kuat dengan terbelenggunya kebebasan setiap manusia sebagai makhluk berfikir.
Kebebasan kita sebagai anggota masyarakat yang harusnya memiliki kebebasan dalam berfikir, bersikap dan bertindak ternyata telah direnggut oleh suatu kekuatan yang sangat dahsyat.
Media massa. Kekuatan yang menggurita dalam semua lini kehidupan dengan kedigdayaannya mampu mendominasi relung pemikiran manusia. Hegemoni pemikiran melalui kekuatan pesannya menstimuli akal dan fikiran manusia untuk bertindak sesuai dengan agenda yang mereka (media massa) rencanakan.
Sruktur pesan dirancang sedemikian rupa hingga pada akhirnya massa mampu dikuasai. Dua professor jurnalisme Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw pada tahun 1972 berpendapat bahwa media massa merupakan sebuah media penyampai pesan yang memiliki pengaruh sangat besar dalam menggerakkan sikap dan prilaku khalayak.
Persepsi masyarakat dibentuk oleh informasi yang disampaikan secara massal oleh media massa secara simultan. Kesepakatan umum pun tak terhindarkan, diakibatkan oIeh media massa yang mengelola isyu dengan manajemen komunikasi yang apik.
Tidak salah apabila kebebasan berfikir setiap anggota masyarakat merupakan sebuah hal yang sangat absurd ketika media massa dengan kedigdayaannya menjadi kitab peradaban baru.
(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.adi_negara@plasa.com)

agresor

Agresor

Invasi yang dilakukan oleh Amerika-Inggris-Australia yang tergabung dalam pasukan koalisi terhadap Iraq merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, menyalahi aturan Internasional dalam pengakuan kedaulatan suatu bangsa. Ini semua merupakan konspirasai kapitalisme dalam melancarkan agresi ke Iraq untuk menguasai ladang minyak yang berlimpah di negara Iraq.

Korban sipil maupun militer telah berjatuhan, kaum wanita dan anak yang tak berdosa dan tak mengerti arti perang tersebut harus menanggung derita.

Perang ini terbagi dua, yaitu :

1. Perang fisik

Perang ini dilakukan oleh kedua belah pihak dengan menggunakan alat-alat militer sebagai senjatanya untuk melumpuhkan lawan, seperti tank, senjata tempur, pesawat udara, tentara / prajurit yang telah dilatih dan lain sebagainya

2. Perang non fisik

Perang ini menggunakan kekuatan media massa ( cetak maupun elektronik ) sebagai senjata untuk menjatuhkan semangat lawan dan dilakukan untuk merebut opini publik, mempengaruhi massa untuk berpihak dan melakukan pembenaran-pembenaran / berpropaganda.

Kedua jenis perang tersebut telah dimainkan oleh kedua belah pihak dan tidak dapat kita sangkal, kedua jenis perang tersebut sama-sama berbahaya, yaitu :

1. Perang fisik

Ø Biaya yang sangat besar dikeluarkan untuk perbekalan dan amunisi

Ø Mengorbankan manusia dari sisi jasmani dan rohani

Ø Menghancurkan fasilitas individu (perumahan) maupun fasilitas publik (perkantoran, jalan-jalan, rumah sakit, dsb.)

2. Perang non fisik / Psy War

Ø Biaya yang dikeluarkan sangat besar (membeli media).

Ø Mengorbankan manusia dari segi psikologis

Ø Menghancurkan sebuah hak kebebasan berfikir dan berpendapat

Semua hal itu dilakukan untuk kemenangan kepentingan, namun jelas terlihat bahwa Agresor Kapitalisme tidak akan pernah menyerah untuk mencapai kemenangan, walau dengan menghalalkan segala cara. Terlihat jelas sebuah strategi destruktif dalam merancang agresi yang tidak disetujui oleh PBB ini dan diprotes oleh berbagai kalangan yang masih peduli tegaknya HAM dan berpihak pada kemanusiaan diseluruh penjuru dunia . Beberapa strategi destruktif tersebut diantaranya :

1. Menggunakan kekuatan militer yang tidak sebanding, yaitu menurunkan ratusan ribu pasukan dan peralatan militer berteknologi tinggi untuk menunjang keberadaan pasukan di medan perang baik strategis maupun taktis.

2. Membombardir kawasan-kawasan yang dianggap mereka sebagai basis kekuatan Saddam dengan rudal-rudal yang dimuntahkan dari udara, hingga banyaknya korban sipil yang berjatuhan karena serangan tersebut.

3. Melumpuhkan fasilitas publik seperti fasilitas telekomusikasi, air bersih, listrik dan lainnya. Dampaknya, terjadi krisis kemanusiaan.

4. Menggunakan kekuatan media massa (cetak maupun elektronik) untuk menyebarkan kebohongan-kebohongan publik, menjatuhkan mental barisan Saddam, merebut opini dunia untuk mendukung agresi tersebut serta untukmendapatkan simpati rakyat Iraq dengan mempengaruhi mereka supaya memusuhi barisan Saddam dengan jalan menyebarkan fitnah bahwa Saddam harus dihancurkan karena rezim Saddam adalah Rezim yang menyengsarakan rakyat Iraq.

Selama penyerangan yang terjadi, Amerika selalu mencari kesalahan-kesalahan barisan Saddam untuk membuat image Saddam buruk di mata dunia. (eginamakoe)