Koalisi Hati

Gaduh riuh masalah koalisi yang diselesaikan berdasarkan nilai transaksi, tak berbeda jauh dengan masalah persona setiap orang.
Dalam keseharian, dunia kerja, bermasyarakat, bicara hati adalah bicara kepentingan.
Berteman dan berbisnis sebenarnya tidak berbeda jauh. Tentunya ada unsur kepentingan persona yang mewarnai konteks hubungan antar persona.
Contoh riilnya adalah “ehm, gue ga cocok dengan dia..”, ” kayanya kita dah ga sejalan lagi deh”, atau yang terparah “ah dia maunya menang sendiri”.
Ya, kita sebagai individu yang memiliki “perasaan” dan “logika” pastinya memiliki perbedaan.
Dan tentunya kita memiliki kepentingan. Jadi, tidaklah aneh bila dinamika politik saat ini selalu dilandasi azas kepentingan, tapi yang harus dicermati adalah sejauh mana kepentingan para elite memfasilitasi kepentingan rakyat banyak.
Ketika para pemilih meletakkan pilihan 5 tahunannya berari tiap-tiap pemilih mengamanatkan kepentingannya terhadap orang yang dipilih.

Iklan

koalisi semu

Dinamika politik yang sedang berkembang saat ini memperlihatkan kepentingan partai berada di atas kepentingan rakyat banyak.
Terlihat dari prilaku DPR yang memenangkan penolakan hak angket mafia pajak dengan komposisi suara dari partai yang kini mendominasi kekuasaan dan partai yang menginginkan kue kekuasaan dibandingkan pemenangan pemberantasan mafia pajak yang menggurita.
Perkembangannya saat ini berpengaruh secara konstan dan reponsif terhadap SetGab koalisi yang terbentuk berdasarkan kepentingan ekesekutif mengamankan roda pemerintahannya.
Terlihat gamblang bahwa pilihan rakyat yang diamanatkan kepada para wakilnya di legislatif dikhianati.
Yang terjadi saat ini adalah politik transaksional dengan bagi-bagi kue kekuasaan, bukan politik yang berdasarkan kepentingan rakyat banyak dimana akar rumput berharap pada wakil-wakilnya memenangkan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan dan kemakmuran yang adil dan merata.