NEWSTAINMENT

Program Televisi di Indonesia kini telah memiliki genre baru : NewsTainment. Dimana pengembangan aspek “siaran berita” menjadi materi hiburan yang mengasyikkan, ditunggu dan tentunya mengerek rating dan share stasiun TV.

Kita amati secara seksama, dari pemberitaan mengenai terorisme, bencana alam hingga yang terbaru (november 2009) yaitu PAGELARAN SIDANG MK kasus KPK VS POLRI.

Sebuah hal yang sangat menarik ditengah banyaknya perdebatan mengenai fungsi dan manfaat televisi yang jauh dari sisi edukasi saat program – program tv seperti sinetron dan perhelatan musik yang hanya mempertontonkan kemewahan dan “komoditas tubuh”.

NewsTainment kini menjadi tontonan alternatif, dan penikmatnya pun kini tersebar di seluruh lapisan unsur – unsur S-E-S, Demografi dan psikografi yang ada target audience.

 

Iklan

Citra – Citra yang Mengikat

Parade CITRA bergerak dengan sangat massif di sekeliling kita. Terpampang di sejumlah media baik cetak maupun elektronik, di sejumlah ruang baik kamar, kantor, jalan hingga toilet, dan di waktu yang tak kenal henti.

Memasok alam pikiran kita untuk mengikuti kata – kata, visual maupun suara yang termuat dalam citra – citra yang ada.

Setiap kita melangkah, himpitan – himpitan citra tersebut mempersempit pemikiran kita. mau tidak mau, kita “terpaksa” untuk menerima pesan yang diinginkan oleh “si pembuat”. Digiring ke area konsumtif dan disisipkan muatan kampanye agar “kita” ini selalu berada dalam genggaman “mereka”.

Nyatanya, ribuan bahkan jutaan “pesan” mampir ke alam sadar kita sebagai sebuah rangsangan bagi perilaku kita. Tindak – tanduk kita seolah – olah mampu dikendalikan seratus persen yang kemudian diremote menurut ke area tindakan yang aktif.

Tinggal, bagaimana kita memperkuat arus subyektif supaya jutaan pesean yang berseliweran disekitar kita bisa terfilter yang kemudian “mekanisme remote” dari produsen (diwakili oleh media /agensi) bisa dipilih dan dipilah sesuai dengan kebutuhan kita.

 

SANTRILOKA

GUS AAN sebagai “pengasuh” Aliran Sesat Ilmu Kalam SANTRILOKA mengaku bertobat, kembali ke Jalan Islam yang benar dan memohon maaf atas segala tindakannya kepada seluruh umat Islam.

Banyak fakta yang terungkap setelah video “pengajiannya” terungkap di media massa. Wejangan Gus Aan yang menjadi kontroversi dan pada akhirnya mendapatkan stempel menyimpang adalah tidak diwajibkannya salat dan puasa bagi umat Islam.

Mengutip dari Detik.com, ” Saya sangat meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan saya”, ujar Gus Aan saat bertemu dengan para wartawan di lobi reskrim  Mapolres Mojokerto.

Menjadi sebuah hal yang memprihatinkan, disaat bangsa Israel sedang mengoyak bumi Palestina dan melakukan penyerangan terhadap Masjidil Aqsa, Bangsa kita dihebohkan oleh kasus Gus Aan dengan SANTRILOKANYA.

Kemanakah arah gerakan umat Islam di Indonesia yang nyata – nyata sebagai salah satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Apakah memang, para pemimpin Islam, para Imam, dan pimpinan lembaga keislaman tak mampu mengontrol wacana publik dan menjaga keaslian ajaran Islam kepada kaum muslim Indonesia.

Nyatanya, banyak kasus penyimpangan ajaran di negara kita ini.