NURANI TAK BERUJUNG

Bencana alam menjadi hiasan dalam perjalanan hidup manusi. Di Indonesia sendiri, bencana alam menjadi sebuah fenomena yang berkelanjutan.  Dari bencana vulkanik, banjir, tanah longsor hingga yang terkini : gempa tektonik.

Hal tersebut banyak mengakibatkan kematian, kehilangan harta benda, degradasi kondisi psikologis dan traumatik.

Bencana alam terakhir yang terbesar di 2009 ini adalah gempa seumatera barat yang mengakibatkan ribuan orang meninggal, hilang, luka berat, luka ringan hingga kehilangan tempat tinggal.

Namun, Kondisi kekinian tersebut ternyata tidaklah menimbulkan rasa empati yang mendalam bagi para pejabat kita. Belum genap sebulan tragedi gempa Sumbar, kementrian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi sudah mengusulkan kenaikan Gaji Menteri dan pejabat negara.

Belumlah duka mereka yang kehilangan, pejabat kita sudah bersiap menerima gaji baru dan jabatan baru dengan berbagai fasilitas yang dibiayai oleh keringat dan pengorbanan rakyat Indonesia.

Dan baru – baru ini pula, jajaran Pejabat KPU bersiap untuk “melakukan evaluasi” Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden ke beberapa negara yaitu Hongaria, Inggris, China, Australia, India, Arab Saudi, Jerman dan Kanada.

Mengutip dari Detik.com, LSM Indonesia Budget Center (IBC) pada Minggu 25 Oktober menyatakan, perjalanan KPU ke 8 negara menyedot anggaran negara nyaris Rp 1 miliar. Tiap anggota diperkirakan mengantongi Rp 67 juta.

Disaat para korban maih menunggu bantuan, disaat mereka sedang memikirkan bagaimana melanjutkan hidup, disaat anak – anak korban gempa berusaha memulihkan kondisi traumatik, ternyata Mereka masih bisa tertawa.

Iklan

LEMAHNYA PERANAN PBB

24 Oktober diperingati sebagai Hari Persatuan Bangsa – Bangsa.

Yang harus kita cermati adalah Peringatan ini bukan hanylah momen pengingat saja, karena di era krisis global saat ini PBB seharusnya memiliki konsep PERSATUAN yang lebih tajam dan mendalam.

Sebagaiamana tujuan awal dibentuknya PBB ini adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun, hingga saat ini, peperangan antar bangsa SELALU TERJADI yang didominasi KEPENTINGAN EKONOMI.

Padahal, apabila kita tilik ke belakang, pendirian PBB didahului dengan perundingan oleh negara – negara sekutu yang terlibat dalam perang dunia kedua seperti Amerika, Prancis, Sovyet dan Inggris menuju jalan kedamaian.

Seperti tertuang dalam Piagam PBB yang ditandatangani oleh 50 negara, bahwa PBB didirikan untuk menjaga perdamaian di dunia, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa, memupuk kerjasama internasional untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, sosial, dan budaya, serta mengembangkan penghormatan atas Hak Asasi Manusia dan kebebasan.

Namun, inkonsistensi negara – negara adikuasa khususnya Amerika dan Inggris dengan black idea dari Israel ternyata mencederai isi piagam tersebut.

Dapat diakui negara- negara adikuasa tersebut dengan komposisi Amerika, Cina, Rusia, Inggris dan Prancis memiliki hak veto dalam dewan keamanan PBB karena status mereka sebagai anggota tetap yang pada akhirnya kebijakan yang dikeluarkan pun berporos pada KEPENTINGAN BESAR mereka.

Kita bisa menarik kesimpulan bahwa PBB tidak memiliki taju, Resolusi perdamaian yang tertuang di Piagam PBB tidak berfungsi maksimal.

Peperangan terus bergulir, nyawa – nyawa manusia sungguh tidak lagi berharga, tidak adanya makna dari Kemanusiaan dan kini, Peperangan terus berlangsung.