Masyarakat Virtual

Tampaknya, seiring dengan perkembangan teknologi, hubungan antar manusia berubah dengan sangat drastis. Pertemuan tatap muka antar manusia yang biasanya menjadi salah satu proses sosial kini telah tergantikan oleh medium elektronika seperti telepon / handphone dan internet dengan keunggulan fitur surat elektronika (email),  chit chat melalui yahoo messenger & Gtalk hingga jejaring sosial seperti friendster, facebook dan twitter.

Bukan lagi FACE TO FACE tetapi fenomenanya adalah FACE TO MONITOR.

Seringkali kita melihat seseorang yang sedang berhadapan dengan Layar Monitor (baik PC maupun HP) seakan memiliki dunianya sendiri. Tertawa, Sedih bahkan ekspresinya pun merupakan sebuah sensasi yang menakjubkan di saat ia sedang melakukan “komunikasi Virtualnya”.

Dunia sudah tak berjarak. Dimanapun, seseorang bisa berbicara, bercerita, marah dan sedih. ” Tidak ada” dihadapan tetapi “ada” dalam situasi yang dibangun medium berbasis teknologi.

Perubahan pun terjadi. Masyarakat sekarang menjadi masyarakat virtual. Masyarakat yang menghuni fantasinya, dengan gelombang sebagai medium penyampai pesan, keinginan bahkan hasrat.

Sudah tidak jamannya berkirim surat, kartu pos hingga membakar kemenyan untuk mengabarkan suatu hal pada orang di luar diri kita.

 

 

 

 

 

MIYABI : (WAJAH) GENERASI TERKINI

MIYABI. Seakan – akan menjadi sebuah magnet tersendiri untuk dibahas dari berbagai sudut. Artis (?) Muda fenomenal ini, beberapa waktu lalu menghebohkan masyarakat Indonesia. Rencana kedatangannya tak lepas dari sorotan berbagai media massa, komentar dari berbagai pihak dan lembaga.

Status keartisannyalah yang “menghantarkan” Miyabi sebagai sensasi perbincangan tersendiri. ARTIS NUDIS, menempel lekat pada dirinya. Wanita yang bernama asli Maria Ozawa ini memang bukan artis biasa karena Populer melalui film – film blue yang menampilkan adegan – adegan “panas”.

Namun, Apabila kita bandingkan dengan kondisi GENERASI saat ini (mayoritas), tidaklah berbeda jauh. Karena, di sekeliling kita, banyak GENERASI muda(walaupun tidak bisa kita kelompokkan dari segi usia dan profesi )  sudah tak sungkan lagi untuk mempraktekkan yang seharusnya menjadi “aktivitas” pasangan suami istri yang sah.

Video “mesum” banyak beredar, baik dalam bentuk cakram maupun media internet. Perbedaannya dengan Miyabi adalah :

  1. Miyabi beradegan panas dibayar secara profesional, generasi sekarang beradegan “atas nama cinta” (inipun masih harus diperdebatkan)
  2. Miyabi beradegan “panas” bertujuan untuk “dikonsumsi” oleh publik dan menghasilkan keuntungan (karena sudah menjadi profesi), sedangkan GENERASI saat ini sebenarnya hanya untuk dokumentasi pribadi namun karena terjadinya kebocoran, ujung-ujungnya menjadi konsumsi publik.  Sayangnya tidak menghasilkan keuntungan tetapi kerugian moral.
  3. Miyabi beradegan panas diproduksi secara profesional dan terarah dengan kualitas gambar dan suara yang jernih, Kasus Generasi sekarang diproduksi amatiran, hanya menggunakan kamera PONSEL atau handycam biasa dengan kualitas gambar  dan suara yang tidak bagus.

Setidaknya, Perbandingan tersebut (subyektif penulis) patut kita cermati lebih dalam dan menjadi bahan pemikiran kita. Bukankah sebaiknya Kasus Miyabi ini merupakan cerminan dari Generasi terkini yang jauh dari harapan.

Alangkah lebih baiknya, Kasus Miyabi menjadikan bangsa ini segera berbenah diri karena, Para Pendiri bangsa ini tidak menghendaki apa yang mereka korbankan pada akhirnya dirusak dan dinjak – injak oleh para penerusnya.

Semoga !

 

 

 

Pemuda Sadar Bencana

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bergema ke seluruh Nusantara. Menjadi sebuah bukti, bahwa pemuda yang memiliki keberanian yang disertai kepekaan sosial yang tinggi, menjadi agen perubahan.

Dari setiap periodenya, pergerakan pemuda tak bisa dipungkiri kekuatan dan pengaruhnya. Dari perang kemerdekaan hingga reformasi 1998, Wajah Republik ini selalu dihiasi Pergerakan Kaum Muda yang Massif.

Dari isu politik, normatif hingga budaya, Pemuda memiliki peranan.

Indonesia terkini, masih memerlukan peran pemuda, yang tangguh dalam bergerak dan peka dalam Isu. Apalagi saat ini, Kondisi Indonesia di penghujung tahun 2009 dihiasi Bencana dan Musibah yang bertubi – tubi.

Peran pemuda, melalui kebijakan pemerintah dan NGO, bisa dimaksimalkan dalam ranah peringatan dini, penanganan bencana dan pengelolaan pasca bencana.

Prinsipnya, harus terbangun kelompok – kelompok pemuda di tiap tingkatan desa dan kota dengan mainstream SADAR BENCANA. PAstinya diperlukan pembekalan – pembekalan khusus mengenai manajemen bencana.

Dalam tataran teknis, para kelompok pemuda ini merupakan agen masyarakat yang sigap disaat terjadinya bencana. Karena, kekuatan alam tidak bisa kita cegah, yang kita mampu adalah meminimalisir resiko dan dampak bencana.

 

NURANI TAK BERUJUNG

Bencana alam menjadi hiasan dalam perjalanan hidup manusi. Di Indonesia sendiri, bencana alam menjadi sebuah fenomena yang berkelanjutan.  Dari bencana vulkanik, banjir, tanah longsor hingga yang terkini : gempa tektonik.

Hal tersebut banyak mengakibatkan kematian, kehilangan harta benda, degradasi kondisi psikologis dan traumatik.

Bencana alam terakhir yang terbesar di 2009 ini adalah gempa seumatera barat yang mengakibatkan ribuan orang meninggal, hilang, luka berat, luka ringan hingga kehilangan tempat tinggal.

Namun, Kondisi kekinian tersebut ternyata tidaklah menimbulkan rasa empati yang mendalam bagi para pejabat kita. Belum genap sebulan tragedi gempa Sumbar, kementrian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi sudah mengusulkan kenaikan Gaji Menteri dan pejabat negara.

Belumlah duka mereka yang kehilangan, pejabat kita sudah bersiap menerima gaji baru dan jabatan baru dengan berbagai fasilitas yang dibiayai oleh keringat dan pengorbanan rakyat Indonesia.

Dan baru – baru ini pula, jajaran Pejabat KPU bersiap untuk “melakukan evaluasi” Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden ke beberapa negara yaitu Hongaria, Inggris, China, Australia, India, Arab Saudi, Jerman dan Kanada.

Mengutip dari Detik.com, LSM Indonesia Budget Center (IBC) pada Minggu 25 Oktober menyatakan, perjalanan KPU ke 8 negara menyedot anggaran negara nyaris Rp 1 miliar. Tiap anggota diperkirakan mengantongi Rp 67 juta.

Disaat para korban maih menunggu bantuan, disaat mereka sedang memikirkan bagaimana melanjutkan hidup, disaat anak – anak korban gempa berusaha memulihkan kondisi traumatik, ternyata Mereka masih bisa tertawa.

LEMAHNYA PERANAN PBB

24 Oktober diperingati sebagai Hari Persatuan Bangsa – Bangsa.

Yang harus kita cermati adalah Peringatan ini bukan hanylah momen pengingat saja, karena di era krisis global saat ini PBB seharusnya memiliki konsep PERSATUAN yang lebih tajam dan mendalam.

Sebagaiamana tujuan awal dibentuknya PBB ini adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun, hingga saat ini, peperangan antar bangsa SELALU TERJADI yang didominasi KEPENTINGAN EKONOMI.

Padahal, apabila kita tilik ke belakang, pendirian PBB didahului dengan perundingan oleh negara – negara sekutu yang terlibat dalam perang dunia kedua seperti Amerika, Prancis, Sovyet dan Inggris menuju jalan kedamaian.

Seperti tertuang dalam Piagam PBB yang ditandatangani oleh 50 negara, bahwa PBB didirikan untuk menjaga perdamaian di dunia, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa, memupuk kerjasama internasional untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, sosial, dan budaya, serta mengembangkan penghormatan atas Hak Asasi Manusia dan kebebasan.

Namun, inkonsistensi negara – negara adikuasa khususnya Amerika dan Inggris dengan black idea dari Israel ternyata mencederai isi piagam tersebut.

Dapat diakui negara- negara adikuasa tersebut dengan komposisi Amerika, Cina, Rusia, Inggris dan Prancis memiliki hak veto dalam dewan keamanan PBB karena status mereka sebagai anggota tetap yang pada akhirnya kebijakan yang dikeluarkan pun berporos pada KEPENTINGAN BESAR mereka.

Kita bisa menarik kesimpulan bahwa PBB tidak memiliki taju, Resolusi perdamaian yang tertuang di Piagam PBB tidak berfungsi maksimal.

Peperangan terus bergulir, nyawa – nyawa manusia sungguh tidak lagi berharga, tidak adanya makna dari Kemanusiaan dan kini, Peperangan terus berlangsung.

ARTI JANJI

Kamis, 22 Oktober 2009. Hari pelantikan KABINET INOONESIA BERSATU II.

34 orang menteri dan 2 Pejabat setingkat menteri mengucap Janji sesuai dengan agama yang dianut dan dihadapan 240 juta orang rakyat Indonesia.

Perjanjian Vertikal dengan Sang Khalik dan Horizontal terhadap Rakyat Indonesia. Sebagai pengucap janji, kesatriaan mereka diuju, karena yang diharapkan adalah pembuktian. Bukan sekedar ucapan yang formalistis yang kemudian lupa begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban moral.

Namun, biasanya dan mayoritas, janji – janji di keseharian hanyalah ” jualan kata – kata”. Dimana tindakan tersebut untuk menarik keinginan  orang lain menjadi keinginan dirinya sendiri.

Banyak kasus kalau kita bicara “janji sebagai jualan kata-kata’. banyak pasangan suami istri cerai dengan pengingkaran janji untuk berlaku adil yang ujungnya berakhir perselingkuhan. Janji anak kepada orang tua agar rajin sekolah dan belajar berujung pengingkaran dengan membolos dan memkai uang spp untuk sekedar main PS.Hingga janji mulia sebagai pejabat berwenang berakhir dengan penghianatan kepada rakyat banyak yang berlaku korup.

Janji. Kata – kata. Yang sebenarnya bukanlah “jualan kata-kata”, tetapi merupakan simbolitas jiwa yang kesatria dengan konsistensi, berpegang teguh pada prinsip keadilan sosial serta kemuliaan tanpa penghianatan.

Dan yang harus dicermati adalah : JANJI YANG BERUCAP DISAKSIKAN OLEH SANG KHALIK DENGAN KEKUASAANNYA MAMPU MENGUBAH KEHIDUPAN SESEORANG SEMUDAH MEMBALIKAN TELAPAK TANGAN !!!

KIB II : bukan kepentingan elit semata

Menaruh harapan. Tepatnya bagi Masyarakat Indonesia setelah Kabinet Indonesia Bersatu II dilantik Oleh Presiden SBY di Istana Negara.

Dengan berbagai latar belakang politik, titel pendidikan dan profesi, KIB II ini diharapkan menjadi jawaban atas kemenangan SBY dalam Pemilu Presiden 2009.

LANJUTKAN !. Bukan melanjutkan kemiskinan dan penggusuran, tetapi mengangkat kaum miskin ke era yang lebih layak melalui program kerja kabinet yang terstruktur dan sistematis.

LANJUTKAN ! dengan reformasi birokrasi yang efisien dan terarah supaya iklim investasi lebih bergairah tanpa harus kekanan dan kekiri, keatas dan kebawah akibat terlalu panjangnya proses birokrasi. Pada akhirnya, investor cenderung “malas” untuk menanamkan modalnya di Republik ini.

LANJUTKAN ! Dengan penuh konsistensi untuk memberantas praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Kepastian hukum dengan barometer keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya proses penghukuman yang tebang pilih.

LANJUTKAN ! bukan lagi BLT yang mengharuskan rakyat penerimanya mengantri terlalu panjang, tetapi melalui mekanisme bantuan pemerintah yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, seperti modal usaha yang sangat mudah dan berjangka panjang disertai terbukanya lapangan pekerjaan.

LANJUTKAN ! Pendidikan murah bukan murahan, dengan kualitas pendidik yang seimbang di setiap daerah dan fasilitas pendidikan yang mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kinerja yang optimal dan berlandaskan mengutamakan kepentingan rakyat dengan tujuan memakmurkan rakyat yang berkeadilan sosial harus menjadi etos kerja bagi seluruh jajaran KIB II ini.

Bukan lagi tawa riang dan sorak sorai setelah namanya diumumkan oleh Presiden yang banyak disiarkan secara langsung oleh media nasional.

Bukan santernya Isu Kenaikan Gaji Menteri dan DPR, tetapi Program kerja yang sederhana tapi praktis dan mampu diaktualiasasikan, bukanlah “program kerja di atas langit”, karena rakyat tak butuh itu.

Mengkonsep Diri di Era Krisis

Mencari Pekerjaan saat ini sangat sulit. Apalagi tidak ditunjang oleh unsur kemampuan dan keahlian spesifik serta koneksi yang kuat. Bagi para lulusan baru (fresh graduate), harus berjibaku dengan para kompetitornya yang berjumlah ratusan ribu. Ditambah, perspektif yang dibangun sejak awal adalah “ kuliah – lulus dan mencari kerja “. Hal tersebut akan mempersempit kesempatan karena, daya serap perusahaan – perusahaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi yang setiap tahunnya berkisar diangka 300 ribu orang. Mengutip dari dari salah satu blog , Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Erlangga Satriagung di Surabaya, Rabu (14/1) mengatakan lapangan kerja rata-rata hanya menyerap 37 persen lulusan perguruan tinggi. Bahkan, beberapa tahun ke depan diperkirakan daya serap itu menurun karena pengaruh resesi ini. Akan hal tersebut, menjadi sebuah kewajiban bagi para kaum muda terpelajar untuk kembali mambangun pandangannya ke arah kemajuan dengan menciptakan peluang kerja dengan keahlian spesifik. Keahlian spesifik tersebut tetap harus berdasarkan nilai jual di tengah masyarakat, dan memiliki Unique Selling Point yang kuat. Tidak serta merta memiliki keahlian namun pasaran, tidak menjual, dan tidak berkarakter. Diperlukannya analisa mendalam terhadap kebutuhan masyarakat saat ini baik yang terbagi dalam tiga tingkatan yaitu primer, sekunder maupun tersier. Jadi, Mulai dari sekarang kita harus mengkonsolidasikan hati dan pikiran yang kemudian diseimbangkan dengan kemampuan akademik dan diselaraskan atas analisa mendalam tentang kebutuhan masyarakat terkini. Maka, Brand atas DIRI KITA terbangun dengan kuat oleh Penciptaan Lapangan Pekerjaan yang mumpuni.

1.http://sapadunia.wordpress.com/2009/02/16/60-lulusan-perguruan-tinggi-menganggur/

JANJI POLITIK

Selamat kepada Pak SBY dan Boediono, yang telah dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Repblik Indonesia periode 2009 – 2014.  Hari ini, awal dari Pemerintahan lanjutan SBY (didampingi Boediono) dalam membangun tatananan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Sebelum memenuhi janji kepada rakyat, Presiden SBY harus terlebih dahulu memenuhi janji kepada para pendukunngya yang telah melakukan pemenangan saat Pemilu Presiden 2009.

Dan, itu merupakan tugas yang sangat berat serta dapat dikatakan bahwa tahapan – tahapan pemenuhan janji presiden kepada para pendukungnya terutama dari elit partai adalah refleksi bangsa Indonesia terkini.

Dukungan yang diberikan bukanlah ikhlas tanpa pamrih, suara yang diberikan bukanlah hal yang begitu saja diberikan tetapi berkaitan dengan pembagian kue kekuasaan yang bisa diterima. Semua ada ” itung – itungannya “.

Mungkin, kita harus kembali melihat kedalam,sudah seperti itukah kita ? Apakah dalam setiap bantuan yang kita berikan kepada sesama ada sesuatu yang kita inginkan ? Pastinya, yang paling minimal adalah PAHALA.

Ibu Mega Kemana ?

Pelantikan SBY – Boediono Sebagai Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2009 – 2014 terlaksana dengan lancar dalam sidang Paripurna Majelis Perwakilan Rakyat yang dipimpin oleh Taufik Kiemas.
Namun, menyisakan pertanyaan ? Kemanakah Bu Mega ?
Ya, Ketidakhadirannya menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan yang telah bergulir beberapa hari kebelakang.
sebuah sinyal ? Perseteruan politik terutama politik pencitraan yang telah berlangsung cukup lama ini menjadi skenario politik yang cukup menarik.
Karena, diperankan oleh dua tokoh BESAR yang dimiliki oleh rakyat Indonesia.
Sampai kapankah ? Tidak bisa kita prediksi. yang jelas, pelantikan yang menelan ratusan juta rupiah ini menyisakan pengalaman berarti bagi rakyat Indonesia khususnya warga DKI Jakarta : menunggu pengalihan arus dibuka 🙂