CALEG SELEBRITIS

Semakin panas. 2009 semakin mendekat. Suhu politik saat ini secara fluktuatif, tak lagi tenang. Masyarakat dibua gamang. Relung nurani pun dibuat tak menentu.
Tak lagi bisa kita menentukan pilihan yang benar – benar bisa dipertanggungjawabkan secara moral.
Etalase figur politik semakin beragam. dari pedagang, pengusaha, saudaga, mantan tentara hingga artis sinetron dan penyanyi dangdut.
Seakan, pengajuan diri sebagai politikus menjadi sosok agen perubahan. Mampu membawa kesejahteraan rakyat banyak.
Partai politik semakin gencar menarik para artis dan aktris sebagai CALEG yang diunggulkan. Walaupun miskin pengalaman di dunia politik. Tak bisa diukur kemampuan diplomatisnya, loyalitasnya dan juga moralitasnya.
Mungkin, dibandingkan mereka menaikan kader – kadernya yang bertahun – tahun berkiprah di oragnisasi tetapi tidak dikenal masyarakat luas lebih baik mereka menarik orang- o rang yang telah dikenal.
Kenapa ? tak butuh waktu membentuk pencitraan, tak utuh waktu lama berkampanye dan jelas jelas “bisa” menarik simpati pemilih.
Tak Ayal. Artis dan aktris saat ini menjadi bahan jualan yang paling produktif di dunia politik.

Iklan

MENGEJAR RATING

Program televisi saat ini tidak memiliki barometer yang pasti dari sisi kualitas. Kalau kita perhatikan dengan seksama, program tv yang berseliweran tidaklah dapat kita katakan berkualitas secara seni, pencitraan hingga pesan moral yang disampaikan.
Pergeseran fungsi pun terjadi, tv yang sebelumnya menjadi media informasi bagi publik, kini hanya menjadi tabung elektronik komersial.
Dari program yang ditonton oleh masyarakat, ratusan iklan menghimpit slot – slot yang disediakan oleh pihak station. Pengiklan dengan beragam kemudahan yang diterima pun semakin leluasa mengatur content yang sekiranya selaras dengan kepentingan sales & marketing produk yang ditanganinya.
Walau program yang disajikan oleh pihak station sangat buruk dari segi kualitas, tetapi rating dan sharenya mencukupi, maka pengiklan pun nyawer di slot program tersebut.
Tak aneh, bila saat ini kita sangat sulit menemukan program – program yang berbasiskan kepentingan publik, yang ada hanyalah kepentingan produsen dan atau pengiklan.
Tak ayal, para penggiat seni yang bekerja di TV pun hanya memikirkan rating dan share rating dan share saja, tak perduli terhadap kualitas (pesan moral). Pertanggungan jawab terhadap publik pun hampir niscaya, karena dinamika kapital-lah yang menjadi KEPENTINGAN PRIORITAS.
Tak aneh, bangsa kita saat ini mengalami geger bidaya yang mencengangkan. Kaum muda lupa terhadap jati diri ketimurannya, anak – anak SMP sudah bisa bilang I Love U dan semakin banyak wanita lupa bahwa auratnya secara hakiki haruslah dijaga dengan sebenar – benarnya