SEPATU BUSH

Kunjungan terakhir Bush ke Irak diwarnai dengan Pelemparan Sepatu oleh salah satu wartawan televisi Irak Al Baghdadia, Zaidi.
Insiden ini terjadi saat Bush bersama Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki melakukan Jumpa Pers berkaitan atas pemberlakuan pakta keamanan AS – Irak.
” Ini ciuman Perpisahan, You Dog”, teriak Zaidi saat pelemparan sepatu yang pertama ke arah muka Bush. Hal ini mengantarkan Zaidi sebagai selebritis berita, karena seluuh media Irak maupun Internasiol memuat berita ini.
Salut untuk Zaidi, karena tindakannya merupakan apresiai terhadap bencana kemanusiaan di Irak. Perlawanan terhadap aktifitas anti demokrasi Amerika di seluruh dunia.
Sebuah Aspek komunikasi politik yang menarik, menyuarakan demokrasi dengan “kelucuan”, tanpa senjata dan nuklir.
tragical diplomatic.

CALEG SELEBRITIS

Semakin panas. 2009 semakin mendekat. Suhu politik saat ini secara fluktuatif, tak lagi tenang. Masyarakat dibua gamang. Relung nurani pun dibuat tak menentu.
Tak lagi bisa kita menentukan pilihan yang benar – benar bisa dipertanggungjawabkan secara moral.
Etalase figur politik semakin beragam. dari pedagang, pengusaha, saudaga, mantan tentara hingga artis sinetron dan penyanyi dangdut.
Seakan, pengajuan diri sebagai politikus menjadi sosok agen perubahan. Mampu membawa kesejahteraan rakyat banyak.
Partai politik semakin gencar menarik para artis dan aktris sebagai CALEG yang diunggulkan. Walaupun miskin pengalaman di dunia politik. Tak bisa diukur kemampuan diplomatisnya, loyalitasnya dan juga moralitasnya.
Mungkin, dibandingkan mereka menaikan kader – kadernya yang bertahun – tahun berkiprah di oragnisasi tetapi tidak dikenal masyarakat luas lebih baik mereka menarik orang- o rang yang telah dikenal.
Kenapa ? tak butuh waktu membentuk pencitraan, tak utuh waktu lama berkampanye dan jelas jelas “bisa” menarik simpati pemilih.
Tak Ayal. Artis dan aktris saat ini menjadi bahan jualan yang paling produktif di dunia politik.

MENGEJAR RATING

Program televisi saat ini tidak memiliki barometer yang pasti dari sisi kualitas. Kalau kita perhatikan dengan seksama, program tv yang berseliweran tidaklah dapat kita katakan berkualitas secara seni, pencitraan hingga pesan moral yang disampaikan.
Pergeseran fungsi pun terjadi, tv yang sebelumnya menjadi media informasi bagi publik, kini hanya menjadi tabung elektronik komersial.
Dari program yang ditonton oleh masyarakat, ratusan iklan menghimpit slot – slot yang disediakan oleh pihak station. Pengiklan dengan beragam kemudahan yang diterima pun semakin leluasa mengatur content yang sekiranya selaras dengan kepentingan sales & marketing produk yang ditanganinya.
Walau program yang disajikan oleh pihak station sangat buruk dari segi kualitas, tetapi rating dan sharenya mencukupi, maka pengiklan pun nyawer di slot program tersebut.
Tak aneh, bila saat ini kita sangat sulit menemukan program – program yang berbasiskan kepentingan publik, yang ada hanyalah kepentingan produsen dan atau pengiklan.
Tak ayal, para penggiat seni yang bekerja di TV pun hanya memikirkan rating dan share rating dan share saja, tak perduli terhadap kualitas (pesan moral). Pertanggungan jawab terhadap publik pun hampir niscaya, karena dinamika kapital-lah yang menjadi KEPENTINGAN PRIORITAS.
Tak aneh, bangsa kita saat ini mengalami geger bidaya yang mencengangkan. Kaum muda lupa terhadap jati diri ketimurannya, anak – anak SMP sudah bisa bilang I Love U dan semakin banyak wanita lupa bahwa auratnya secara hakiki haruslah dijaga dengan sebenar – benarnya

Perempuan “Dijual”

Tiap detik di layar televisi, kita menyaksikan tayangan – tayang yang mempertontonkan aurat perempuan yang sangat – sangat vulgar. Kita mampu melihat dengan kasat mata, setiap lekukan tubuh dari seorang perempuan yang menari, bernyanyi dan berbicara sekalipun.

Ternyata, sampai saat ini, lekukan tubuh perempuan masih menjadi bahan jualan, masih menjadi daya tarik dan masih dipertahankan untuk tetap di posisinya : media eksploitasi.

Dari “Jualan Motor”, sabun, material “penambah” efek cantik hingga peralatan elektronik.

Kenapa masih ???

Tidak Bisa Tidak Bisa

Dalam menghadapi beragam persoalan hidup kita, sebagai manusia yang dipenuhi ketidaksempurnaan, terkadang kita mundur sebelum persoalan terselesaikan. Kenapa kita harus mundur ?

Banyak orang melakukan ” mundur” karena dia tidak mampu untuk membicarakan segala sesuatu kepada dirinya sendiri. Tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Tidak mampu mengkomunikasikan realita kepada dirinya sendiri yang pada akhirnya, feedback-nya tidak terarah.

Apa yang dia fikirkan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. pada akhirnya, ganjaran pun tidak pernah sesuai.

Sebaiknya, kita mampu menangkap realita dengan obyektif. Karena kita adalah makhluk sosial, dimana proses pembelajaran yang ada di luar kita merupakan proses pembeljaran bagi diri kita.

Kemudian, Nalar yang menjadi kekuatan Citra diri kita harus dioptimalkan dengan mengeskplorasi realita menjadi sebuah pesan dengan etika ” moral yang kita anut sebagai filterisasi.

Setalah semuanya berproses, Putuskan apa yang harus kita lakukan,karena PILIHAN ada di tangan kita, BUKAN ORANG LAIN.