Harapan Amir

Dari sebuah TV Ad, kita mengenal betapa berharganya arti perjuangan, arti dari kekuatan..eksplorasi ide dan prilaku serta kompetitor personal (terlepas dari masalah corporat)

Kenapa tidak kita berusaha membangun diri ini dari sudut pandang Amir, dalam sebuah iklan provider ponsel. Memajukan personalitas kita menjadi sebuah produk unggulan di tengah kemajemukan masyarakat.

tock, pada akhirnya..persaingan di dunia nyata yang kuat adalah yang menang, kuat dalam segi :

  • kreatifitas
  • keuletan
  • keberanian dalam menekuni hal – hal yang baru
  • melepaskan segala tekanan, membongkar semua wacana dan mereduksi kedalam botol – botol pemikiran
  • labelisasi personal

ehm.. DIRI KITA INI (JUGA) SEBUAH PRODUK KOMERSIAL (PADA AKHIRNYA)

PARTAI KOTOR

Menjelang tahun 2009, suhu politik telah memanas. Berbagai Partai politik sudah bersiap diri menuju medan peperangan. dari konsolidasi internal, safari politik, kampanye terselubung melalui iklan instansi yang menjual tokoh sentralnya hingga hujan pamflet di berbagai pelosok serta hutan baliho yang bertebaran.

Sebagai kereta politik, sebuah partai menjadi gerbong penarik massa. Jualan yang sangat keras (pilih saya) hingga yang lebih halus (efek ketokohan sebagai manusia penyelamat) menarik untuk dibicarakan .

Sayangnya, hal kecil mereka tidak mampu melihat, ibarat sebuah pepatah, semut di seberang lautan terlihat tetapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat.

Berantas korupsi, menciptakan lapangan pekerjaan, ekonomi kerakyatan hingga pemabangunan fasilitas rakyat yang manusiawi menjadi salah satu tagline yang dipilih oleh berbagai politikus untuk menarik simpati masyarakat.

Satu aspek kecil dan sangat kecil tidak menjadi perhatian bagi mereka SANG ORANG BESAR.

Bagaimana bisa mereka yang menjanjikan perubahan hanya bisa mengotori jalanan dengan spanduk yang penataannya tidak beraturan, Spanduk yang menutupi papan penunjuk jalan, Bendera yang yang dipasang di lampu – lampu jalanan, hingga pamflet yang dilem sembarangan di tembok – tembok perumahan dan dipaku d pohon – pohon peneduh.

Pengakuan sebagai partai yang bersih jelas – jelas mengotori lingkungan, mengganggu ketertiban umum.

Bisakah mereka mengatur dirinya sendiri sebelum mengatur diri orang lain ( masyarakat atau negara)

Semoga mereka tersadar dari mimpi yang sempurna.

Tentang Dunia

Kamis, 27 November 2008. Mata DUnia melihat bagaimana gerakan Rakyat Anti Pemerintah Thailand beraksi.  Bandar Udara Internasional Bangkok, Suvarnabhumi dipenuhi massa massif tersebut.

Di Indonesia, Gerakan serikat buruh di beberapa daerah mulai bergema, menuntut pencabutan SKB empat menteri. DI Amerika sendiri, Negeri Adidaya dikejutkan oleh pernyataan dari Perusahaan mobil terbesar di dunia, General Motors yang akan menyatakan bangkrut.

Somalia, menarik perhatian dunia dengan kegiatan perompakan di teluk Aden.

Dunia pendidikan Indonesia tetap jalan di tempat, banyaknya guru bantu yang belum diangkat sebaai PNS dan para pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hanya menerima insentif seratus ribu rupiah perbulan.

Ucapkan Kata – Kata

Setiap kata yang meluncur di setiap pembicaraan pastinya mempunyai makna.

Makna tersebut kadang tidak mampu kita mengerti,karena disaat pembicaraan yang dinamis berjalan diantara dua orang atau lebih, mereka saling mengirim kode – kode menjadi sebuah pesan yang harus ditangkap dan dianalisa hingga mendorong terjadinya umpan balik.

Apabila Kode – Kode yang merambat di sebuah pesan berkekuatan negatif, maka umpan balik yang terjadi pun mampu membuat situasi yang tidak mengenakkan.

Program TV : Sarat Kepentingan

Dari setiap penayangan prgram televisi, terkadang kita terlalu menyayangkan idealisme kreatif yang tidak berjalan dengan maksimal. Dalam esekusi kreatinya, campur tangan  pihak lain masih sangat kuat.

Tidak adanya ruang publik yang bebas nilai. Setiap jengkalnya dipenuhi oleh  tangan – tangan berkuasa

Unsur Rating & Share masih saja menjadi beban yang harus ditanggung oleh setiap eksekutor. Apalagi bila adanya built in product atau blocking. Klien seakan tidak pernah mengerti target dari sebuah program. Grand achievmentnya pada akhirnya bergeser : Nila jual sebuah product bukan Kepentingan publik yang butuh informasi dan hiburan.

Soal Iklan Soeharto, Internal PKS Pecah

JAKARTA – Penayangan tokoh rezim Orde Baru Soeharto dalam iklan PKS tak hanya memunculkan pro kontra di eksternal. Di internal partai itu juga muncul beda pendapat. Ternyata tak semua tokoh kunci partai tersebut setuju dengan penampilan mantan presiden kedua itu.

Sikap menolak terhadap iklan yang telah ditayangkan itu datang dari Anggota Majelis Syura DPP PKS Hidayat Nurwahid. Menurut dia, partainya tidak pernah mengeluarkan keputusan untuk memasukkan Soeharto dalam kategori pahlawan.

”Saya menyayangkan kenapa Pak Harto ditampilkan bersama dengan tokoh lain dan disebut sebagai guru bangsa dan pahlawan nasional,” ujarnya saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, kemarin (21/11). Penolakan atas ide tersebut ditunjukkan Hidayat dengan tidak menghadiri perhelatan besar penyerahan pemimpin muda awards versi PKS di Bandung, Kamis (20/11).

Ketua MPR itu menyatakan, pengambilan keputusan untuk menanyangkan iklan politik tersebut tidak melalui persetujuan majelis syura. Padahal, sesuai dengan mekanisme umum di PKS, keputusan strategis seperti itu harus melalui persetujuan majelis syura. ”Iklan itu tidak dibahas di majelis syura. Dan karenanya, saya tidak terlibat di dalam pembahasan,’ ‘ ungkapnya.

Hidayat juga mengatakan, bukan hanya majelis syura yang tidak diajak bicara soal penayangan iklan politik tersebut. Sebagian pimpinan DPP PKS juga tidak setuju dengan ide iklan tersebut. ”Pak Tifatul (presiden PKS, Red) pun telah tegas menyatakan PKS belum pernah mengusulkan beliau (Soeharto, Red) sebagai guru bangsa,” ungkapnya. Artinya, penayangan iklan tersebut memang dilakukan sepihak oleh salah satu faksi di PKS.

Dalam beberapa hari terakhir, beredar SMS (short message services ) di kalangan wartawan bahwa PKS telah menerima dana miliaran rupiah untuk penayangan iklan tersebut. Dalam SMS itu disebutkan, Hidayat menerima sekitar Rp 3 miliar untuk berkampanye. Saat dikonfirmasi soal itu, Hidayat membantah keras. ”Saya pada posisi menolak iklan tersebut. Bagaimana bisa dapat duit? Kalau secara pribadi, tidak satu rupiah pun uang dari Cendana masuk ke kantong saya. Itu fitnah,” tegasnya. (cak)

disadur dari :
http://jawapos. com/halaman/ index.php?act= detail&nid=36944