Antara Minuman dan Dangdut

Minuman keras apapun namamu

tak akan kureguk lagi

dan tak akan kuminum lagi

walau setetes

Dahsyat benar lagi dari Bang Rhoma Irama untuk sedikit memberikan nuansa kesadaran dalam sebuah replika kenyataan masyarakat yang diangkat ke dalam syair Miranstika.

Kenyataan yang berputar di keseharian penghuni republik kita tercinta ini dengan harum alkohol dan lenggak – lenggok saweran. Dangdutlah sebagai porosnya di pojok – pojok kampung, di kegelapan malam yang diterabas oleh bus malam dan truk – truk berukuran besar di wilayah pantura hingga kerlap – kerlip kafe metropilitan.

Entahlah…mungkin melalui sedikit sentuhan alkohol, nuansa musik bisa merasuki jiwa penggemarnya dengan nada – nada yang tertuang mengiringi syair pelipur lara sebagai obat kesesan ekonomi masyarakat bawah.

Tak lepas juga dari para pelaku dangdut itu sendiri dengan glamor dan terkadang terlihat norak dan memaksakan diri hingga pencitraan negatif pun secara kuat dan dengan arus kuat merangsek dangdut dan dunianya.

Sampai kapankah dangdut kita sebagai Music of my country ( Project Pop) ini naik kelas?

Inulkah Jawabannya ?

Iklan

Berpacaran dengan Khayal

Dalam kesendirian, tidak pernah berujar

Lelap malam melumat kata-kata

Menghujani segenap permimpian

Membiaskan rasa dan asa

Memang, terkadang kita tidak berfikir dengan lebih mendalam apa arti sebenarnya dari cinta dan kasih, kita mengjilangkan pemaknaan yang sebenarnya.

Mungkin aku tidak mampu untuk mengatakan kita “berpacaran” karena arti kata itu masih abstrak dan tidak jelas. Terlebih dengan arti kata ikatan.

Aku lebih memilih kita menjalani apa kata hati kita dan memaknai apa artinya ikatan hati. Ditambah sebenarnya jauh sudah kita masuk ke dalam sebuah ikatan yang meimiliki kekuatan.

Jangan kau memandang aku mempermainkan perasaan kamu tetapi aku lebih menghargai perasaan dan rasa sayang kamu.

Ketika kita bisa saling menyayangi dan mencintai, toh ucapan yang keluar dari mulut kita tentang komitmen terkalahkan oleh apa yang kita rasakan.

Gelap malam menggeliat, diiringi gemintang yang berdansa

Desiran angin mengembara mengajak tawa bermain dengan gembira

Walau lelampuan tetap tidak bergeming dari peraduannya

Tinggal hewan malam yang mencoba berlari dari segumpal gelisah

Sekian

-Gie-

Jatinangor, 15 September 2003

12:35

simbol – simbol

Perkembangan teknologi saat ini mampu membuat transformasi oleh pikir manusia dengan penggambarannya yang sangat konstruktif. Hal ini ditengarai adanya beragam kemungkinan dari saluran pesan untuk memberikan efek dan pengaruh di masyarakat dalam proses penanaman nilai, moral serta pembangunan karakter.

Fotografi yang merupakan hasl dari produk teknologi visual, disetting dengan sedemikian rupa hingga mampu memberikan nafas baru dalam penyampaian informasi. Mekanisme yang dibangun oleh fotografi dalam teknik penyampaian informasinya melalui ekspresi dari suatu kenyataan yang diwujudkan dalam bentuk tanda- tanda, symbol serta bahasa yang tersirat.

Tanda – tanda yang diberikan oleh foto tercetak merekronstruksi pesan untuk menguatkan kenyataan yang ditampakkan. Pesan tersebut mengalir dengan apa adanya hingga mampu mengkaitkan emosi yang melihat.

Pergeseran ini selaras dengan pernyataan dari Roland Barthes, seorang ahli komunikasi yang beraliran semiothological theory, bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

Asumsi – asumsi pada sebuah foto direkonstruksi melalui ekspresi obyek pada satu waktu untuk melintasi kenyataan dan memaparkan bahasa yang mampu diterima oleh masyarakat sebagai khalayak komunikasi.

Tanda & Simbol sebagai bahasa

Era digital, dapat dikatakan seperti itu, yang berkembang saat ini menjadikan restrukurisasi olah informasi dan pandangan serta keinginan yang mekanis serta terstruktur.

Susunan simbol – simbol ini mengupayakan sebuah konstitusi pesan dengan pemyampaian non verbal. Aktifitas dari visual teknologi ini mampu mendobrak mekanisme komunikasi khalayak yang konvensional, menggeser kemampuan bahasa verbal serta mendayagunakan efektifitas symbol.

Symbol – symbol ini terwujud dengan penampakan dari ekspresi pada lintasan waktu. Perwujudan tersebut mewakili tempat, waktu dan dinamika yang bergerak pada perkembangan masyarakat tertentu.

Sangat miris memang, pergeseran kata dan bahasa yang digunakan selama berabad – abad diruntuhkan dengan cepat di era digital. Namun ruang komunikasi digital ini memiliki dampak yang sangat maju dengan menegasikan batas – batas demografis, relung kesadaran suatu kelompok serta entitas kesukuan yang diwakili bahasanya masing – masing.

Persepsi simbol dan tanda dari suatu foto yang pesannya diproduksi secara massal memastikan jadi persepsi umum, persepsi khalayak. Rezim teknologi visual mengkomunikasi keinginan penyampai untuk khalayaknya beraliasi dalam kampanyenya.

Maka, kepastian dari kemunculan teknologi visual ini adalah rezim baru dari masyarakat, dengan kekuasaannya dalam merekonstruksi pesannya yang secara detruktif mampu menginspirasikan informasi gambar menjadi persepsi umum.

Dekat semakin jauh

Semakin kita dekat dengan seseorang, kita semakin jauh dengan orang tersebut. Apakah anda semua pernah merasakan hal tersebut.

Walaupun tidak secara sadar kita rasakan, namun, biasanya hal tersebut selalu terjadi.

Ketika kita dekat dengan seseorang, hingga kita merasa memiliki orang tersebut, semakin banyak friksi yang timbul dan semakin banyak konflik yang terbangun. Detik demi detik kita rasakan penuh pertengkaran, penuh dinamika pergolakan perasaan dan hasrat yang tak pasti dalam artian perasaan – perasaan yang sedikit bodoh seperti posesif, merasa cermburu dan takut kehilangan yang sangat.

Hal – hal tersebut mengalir dengan apa adanya seperti aliran sungai menuju ke lautan luas.

ehm, apakah kita pernah mengkomunikasikan hal tersebut ????

Julia Perez dan Kondomnya

ehm, lucu juga cara dia menarik fenomena dalam peluncuran album barunya dengan cara yang ” tidak biasa” dan sangat kontradikitif di tengah hegemoni masyarakat yang sangat kultural dan agamis.

pembagian kondom dalam peluncuran album “KAMASAUTRA” sangatlah menarik dengan konten albumnya sedikit mencentil aura berfikir sedikit sexy.

artis dengan nama asli julia rahmawati ini berpendapat bahwa pembagian kondom tersebut merupakan dukungannya terhadap kampanye HIV / AIDS.

yup, mungkin dengan kondomnya itulah orang akan melirik albumnya karena biar bagaimanapun dalam mempromosikan sesuatu ke tengah khalayak diperlukannya strategi yang mumpuni agar timbul perhatian dari kalangan luas.

sensasionalkah ? tergantung darimana kita memandang dan berpendapat !!!

kata yang renyah

Kata – kata yang menggigit membuat orang bisa terkesima,terpengaruh dan mengangguk-angguk. Jangankan pohon kelapa yang mendayu – dayu di tepian pantai disepoi angin malam, melalui kata – kata gedung bertingkat pun terlihat asimetris.

Belajar dari fenomena Hitler Sang Penakluk, metode kata – kata yang menjelma menjadi sebuah nuklir bergerak perlahan mengobrak – abrik bahana ideologi.

Untuk itu, mari kita menyiapkan kata – kata yang berdaya ledak dalam setiap pembicaraan kita dengan orang – orang di sekitar kita. baik yang berkepentingan maupun mereka yang harus kita perdaya tetapi positif.

PROFESIONALITAS ?

Ehm, dari sebuah diskusi di meja kotak bersama seorang rekan kerja, tercetus kata-kata profesionalisme dalam bekerja dan pekerja berkarya.

Dari perbincangan yang terjadi yang dimulai dengan keluhan dirinya mengenai kejadian yang baru dialami sebagai sebuah kontraproduktif stimulus.

Ternyata, di sebuah perusahaan besar masih adanya penerimaan karyawan yang berdasarkan kekerabatan dan kedekatan emosional. mungkin hal tersebut ridaklah menjadi masalah kala seseorang yang direkomendasikan memiliki kemampuan dan watak berfikir bukan pekerja tetapi karya – wan.

ya, seorang yang berada di levelan sub manager seharusnya memiliki watak kerja yang credible tetapi tidak mbosy (bergaya bos-pen). seakan – akan kedudukannya merupakan sebuah tahta yang harus dihormati.

ini sebaliknya, mengaku sebagai seorang bos tetapi tidak didukung oleh kapabilitas yang mumpuni, pengetahuan dasar yang multi output hingga komunikasi organisasional yang paten.

Sayangnya, dalam keadaan seperti itu, orang yang diceritakan, tidak mau belajar dan mengkomunikasikan segala sesuatunya secara team work.

Dari perdebatan yang terjadi itu pula, saya sebagai seorang pion di sebuah perusahaan broadcast hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada serta hanya mampu berkata : Ya begitu dech…

Terjadilah perbedaan cara pandang dan menimbulkan sebuah pertanyaan yang baru lagi, Ketika kita bekerja, apakah sekedar bekerja menuruti jadwal dan penugasan dan menunggu gaji siakhir bulan sebagai “penghargaan” terhadap hasil pekerjaan kita.

Ataukah disaat kita berkecimpung di suatu perusahaan (apapun itu), kita benar-benar mengimplementasikan seluruh kemampuan kita dengan output sebuah masterpiece yang lahir dari alam raya ide kita.

Mungkin, dunia penuh warna dan kepala kita beda.

Ruang kerja. 1 April 2008. eginamakoe. 14.30 bbwi