Pemilih adalah Konsumen ( Analisa Dalam PILKADA DKI JAKARTA )

SATU
Pemilihan Kepala Daerah tingkat propinsi DKI Jakarta yang dilangsungkan pada tanggal 8 Agustus 2007 menjadi sorotan publik seantero Nusantara. Hal ini menjadi sebuah fenomena hangat karena DKI Jakarta merupakan miniatur kehidupan masyarakat Indonesia dengan status administrative sebagai Ibukota Republik Indonesia.
Kedua pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat di hati dan pikiran masyarakat Jakarta sebagai target pemilih.
Beragam aktifitas kampanye telah dijalankan oleh masing – masing calon resmi jauh – jauh hari sebelum agenda politik ini resmi ditetapkan, baik itu melalui kegiatan sosial, temu kader hingga perang wacana di media yang berkaitan dengan membangun Kehidupan Jakarta yang lebih baik.
Dapat dikatakan bahwa para tim sukses kedua pasangan CAGUB dan CAWAGUB menjadikan pasangan tersebut bak sebuah produk yang dipasarkan secara gencar untuk mendapatkan suara pemilihan yang besar secara kuantitas dengan menjadikan masyarakat Jakarta sebagai konsumen potensial untuk memenangkan agenda politik dan kepentingan mereka.

DUA
Masyarakat Jakarta dalam kancah perpolitikan nasional dan daerah merupakan asset potensial dalam melanggengkan kekuasaan politik bagi organisasi politik dalam hal ini adalah partai politik.
Dalam pemilihan Kepala Daerah tingkat propinsi, masyarakat Jakarta merupakan konsumen potensial yang memiliki kemampuan praktis dalam pemenangan agenda politik para CAGUB dan CAWAGUB.
Namun, fenomena baru terangkat ke dalam opini public dengan adanya pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya (GOLPUT) dalam PILKADA DKI JAKARTA. Hal ini menjadi sorotan serius karena jumlahnya yang melibihi lima ratus ribu suara.
Pemilih dalam hal ini konsumen produk politik telah memiliki pandangan dan pengetahuan yang mencukupi untuk menentukan kepada siapa mereka menyerahkan nuraninya dan menentukan siapa pemimpin yang benar – benar mampu mewakili aspirasi mereka.
Aspirasi ini merupakan naturaly desires setiap individu yang merupakan motivasi berkehidupan setiap manusia. David Mc Kalland dalam teorinya mengatakan bahwa dalam diri manusia ada tiga tingkatan keinginan yaitu Need of Achievment ( keinginan berprestasi ), Need of Affiliation ( keinginan untuk berafiliasi ), dan Need of Power ( Keinginan untuk berkuasa ).
Masyarakat Jakarta terus menerus melihat kemampuan dan keinginan setiap pasangan CAGUB dan CAWAGUB dalam memaparkan visi misi dan program kerja yang berusaha membangun kehidupan lebih baik dari saat ini di Jakarta khususnya sebagai stimulus untuk menjatuhkan pilihannya ( Need of Affiliation ).
Para pemasar produk politik PILKADA DKI JAKARTA dalam hal ini adalah team sukses yang berperan sebagai back stage actor memanfaatkan unsur dalam diri manusia untuk membangkitkan motivasi dan kesadaran pemilih. Membangkitkan aware masyarakat dengan penggunaan atribut bahasa dan penggunaan karakter simbolik yang berkaitan langsung dengan emosi dan kultur masyarakat.
Salah satu CAGUB memaparkan bentang masalah kehidupan Jakarta yang pelik sebagai salah satu strategi kampanyenya. Freud seorang ahli pisko analisa yang hingga saat ini teori-teorinya masih langgeng digunakan memaparkan bahwa peranan awareness dan prilaku manusia dipengaruhi oleh id, ego dan super ego yang saling berkait dalam diri manusia.
Bentang masalah pelik yang dipaparkan merupakan stimulus yang dipaksakan untuk memancing kesadaran masyarakat serta diupayakan sedemikian rupa mampu membangun situasi moral dalam benak dengan visualisasi yang dramatis.
Namun adanya masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya merupakan fenomena menarik yang harus diperhatikan oleh para team sukses dalam mempertmbangkan strategi kampanyenya.
Efektifitas komunikasi dan pembangunan ruang ruang kesadaran dengan penggunaan stimulus melalui pendekatan nilai, moral dan kultur terkadang hanya membangkitkan interupsi kesadaran bagi para pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya karena kekecewaan, ketakutan hingga aura pesimis yang diakibatkan oleh tidak adanya kemauan politik yang logis dari para pemimpin untuk membangun situasi kehidupan yang lebih baik.
TIGA
Fenomena Golput ini merupakan ketidakberhasilan team sukses dalam upayanya menyentuh ruang emosi dan kesadaran para pemilih. Janji – janji politik yang ditebarkan dianggap hanya janji – janji kosong lima tahunan dan hanyalah menjual mimpi.
Mereka ( dalam hal ini pemilih sebagai individu yang ditempatkan sebagai konsumen produk politik ), jengah dengan keadaan yang pada akhirnya menimbangkitkan kesadaran pesimis.
Para team sukses yang berperan sebagai pemasar produk politik menganggap bahwa janji – janji manis masih memiliki nilai jual yang tinggi dalam mendapatkan dukungan politis.
Masyarakat sebagai individu memiliki need for cognition (NCog) alias kecenderungan individu untuk melakukan dan menikmati kegiatan berpikir. Menurut penggagasnya, John Cacioppo dan Richard Petty, orang dengan NCog yang tinggi cenderung mempertimbangkan segala hal sebelum membuat keputusan, mementingkan obyektivitas, terbuka terhadap pengalaman baru, serta menyukai kreativitas dalam berpikir.
Harus disadarai bahwa semenjak bergulirnya reformasi dengan kran informasi yang mengucur deras, kesadaran masyarakat dengan peningkatan Need of Cogition ( NCog) semakin meningkat ditandai dengan adanya fenomena politik adanya GOLPUT di setiap pemilu.
Obyektifitas dan kampanye yang logis lebih diutamakan dalam momentum drama politik dibandingkan hanya menjual mimpi – mimpi dan janji politik yang sudah usang dimakan zaman.
(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.bonaparte_france@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s