etika periklanan

Iklan dari Segi Etika
Penyajian iklan di berbagai media baik cetak maupun elektronik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat. Hal ini terlihat banyaknya masyarakat yang terpengaruh untuk membeli sebuah produk karena pernah melihat iklannya di televisi atau di majalah.
Agresivitas periklanan merupakan ilusi bagi masyarakat karena yang timbul adalah penanaman nilai-nilai konsumtif bagis kesadaran nyaya masyarakat umum. Bukan lagi menginformasikan produk atau pembentukkan citra produk yang positif namun proses ideologisasi.
Penyampaian pesan dari pengiklan lebih banyak meawarkan kepastian dan janji yang diluar itu sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi produk sebenarnya. Heroisme produk menjadi sebuah jalan bagi pengiklan untuk menawarkan hasil kreatif (yang merupakan amanat produsen) kepada msyarakat umum.
Penganutan ideology (kapitalisme) dari produsen dan pengiklan sendiri merupakan sebuah jawaban bagi semua yang tertera diatas karena berhubungan dengan pengakumulasian modal dan cara untuk mencapai hal tersebut.
Benturan budaya dan nilai-nilai yang dianut masyarakat sering terjadi seperti erotisme iklan, kata-kata vulgar dan penanaman nilai konsumtif yang mengalir bgitu deras.
Menjadi pertanyaan bagi kita apakah di dunia periklanan harus memiliki kesantunan dan kesopanan serta etika yang mengatur semuaya atau dibiarkan mengalir begitu saja yang kemudian eksekusi penilaian diserahkan kepada masyarakat sebagai orang-orang yang terkorbankan oleh ideologisasi periklanan.

Ruang Konsumen
Tersaji dalam UU Perlindungan Konsumen no. 8 tahun 1999 dimana penempatan hak – hak konsumen harus diprioritaskan sebagai bahan pertimbangan dalam mengatur kaidah – kaidah dalam berpromosi dan beriklan.
Pengelolaan pesan da;am setiap materi promosi maupun beriklan dalam koridor menghormati hak – hak konsumen, melepaskan kepentingan yang tidak bertanggung jawab secara social dalam strategi penjualan yang dilakukan oleh konsumen.
Pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang keberadaannya diatur oleh UU Perlindungan Konsumen pada Bab XI Pasal 49 sampai dengan Pasal 58. Pada pasal 49 ayat (1) disebutkan bahwa Pemerintah membentuk badan penyelesaian sengketa konsumen di Daerah Tingkat II untuk penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan. Badan ini merupakan peradilan kecil (small claim court) yang melakukan persidangan dengan menghasilkan keputusan secara cepat, sederhana dan dengan biaya murah sesuai dengan asas peradilan.
Pengaturan hak – hak konsumen harus sejalan antara kepentingan penjualan dengan pasar sebagai area perebutan kekuasaan dengan etika yang menggunakan sudut pandang nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Konsumen memiliki hak dalam menentukan pilihan untuk membeli dan menggunakan suatu produk. Bukan obyek eksploitasi produsen. Jelaslah, dalam berpromosi sebaiknya etika harus diprioritaskan.

(eginamakoe.medkoadkomunika.X-PressiClass.bonaparte_france@yahoo.com)

Iklan

Analisa iklan A Mild

A Mild Billiard (Jump Shoot)
Iklan A Mild Billiard tayangan televisi menjadi salah satu bahan untuk dikritik dan kita cermati. Jump Shoot yang mengumpamakan pukulan bola putih yang mengenai sasarannya dengan melompat dan melewati halangan (melompati bola untuk mengenai bola sasaran) yang digambarkan dalam iklan tersebut dengan seseorang yang berkostum putih melompati orang yang kemudian mengenai orang lain setelah melakukan lompatan sangatlah melanggar etika periklanan dari sudut pandang budaya dan diskriminasi seksual.
Di dalam iklan tersebut, orang yang dikenai atau menjadi sasaran adalah perempuan yang berpakaian kuning dan jatuh ke dalam air mancur.
Menjadi pertanyaan bagi kita. Mengapa orang (manusia) yang menjadi obyek dan kenapa harus seorang perempuan yang terlempar kedalam air mancur.
Iklan merupakan strategi yang digunakan oleh produsen untuk meningkatkan citra dan penjualan produk. Dampak dari iklan yang disiarkan di televisi bagi masyarakat adalah pengaruh negatif terhadap moral dan kesadaran nyata.
Di iklan tersebut dapat diartikan kaum perempuan adalah lemah dan selalu tidak berdaya. Dicontohkan dalam tayangan iklan tersebut setelah perempuannya tercebur ke kolam si pelaku (orang yang berkostum putih) tertawa dengan senangnya.
Hal ini dapat merusak moral masyarakat terhadap pandangan mereka terhadp kaum perempuan. Keharusan bagi kita untuk menolak penindasan dalam berbagai bentuk khususnya penindasan terhadap kaum perempuan. Unsure pendidikan yang ada dalam tayangan tersebut adalah unsur negatif.
Iklan seharusnya mampu mengemas isu kreatifnya dengan rapih dan termekanisme ranpa benturan budaya, namu sayangnya para pegiat iklan tidak terampil dalam hal tersebut.
Kasus ini merupakan bagian dari kreatifitas iklan yang kurang dan tidak mencerminkan perlakuan yang memanusiakan manusia.

(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.bonaparte_france@yahoo.com)

arti perawan (dalam sebuah iklan)

APAKAH ANDA MASIH PERAWAN ?
Kata-kata ini muncul di layar televisi kita berulang kali sebelum nama produk dimunculkan. Walaupun pemunculan kata-kata itu tidak lebih dari 5detik, namun bisa menimbulkan kegelisahan di tingkatan masyarakat awam.
Perawan (dengan imbuhan ke-an) merupakan kesucian bagi segolongan masyarakat (perempuan). Dan bila kita memperhatikan iklan tersebut menjadi ambigu maknanya.
Perawan dalam artian masih suci dan perawan dalam segi seksual (maaf :masih rapet, belum blong).
Hal ini merupakan sebuah sumbu ledakan yang sewaktu-waktu akan membakar periklanan sendiri dengan korelasi informasi produk (beserta pencitraan) dengan kadia-kaidah budaya dan moralitas yang dalam segolongan masyarakat masih kental.
Tujuan periklanan memang tidaklah satu dan tidak terpatok dalam sebuah makna. Bila kita tilik lebih jauh, periklanan adalah skema produsen global (kapitalis sebagai pemilik modal) untuk melanggengkan kekuasaannya dengan berusaha mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya.
Aspek budaya memang terkadang teridentifikasi sebagai sebuah hal yang berwarna absurditas dan abstrak. Namun bukan dengan sebuah jalan yang dapat dibenturkan dengan memasukkan unsur-unsur realita (9terutama kebutuhan seseorang akan sesuatu).
Memang, pada akhirnya terjadi pergesera tujuan dari need of product menjadi need of desires.
Dalam iklan ini, masyarakat digiring kedalam keinginan untuk menjadi perawan kembal, dan hal yang paling parah adalah negasi terhadap kenyataan seseorang yang telah menikah seakan-akan nista dan tidak memiliki harapan hidup.

Ketika Sexy Itu Absurd

Perempuan memiliki nilai – nilai keindahan yang bisa dinikmati dengan segala daya tariknya. Mungkin hal ini yang sering digunakan oleh para pemasar untuk mempromosikan sebuah produk yang dilempar ke pasaran.
Menjual daya tarik perempuan ke ranah promosi semakin sering digunakan sebagai salah satu strategi komunikasi.
Eksploitasi. Korelasi antara perempuan dengan keindahan terkadang tidak selaras dengan tujuan komunikasi sebuah produk. Dalam display di sebuah pameran mobil, perempuan – perempuan sexy dipajang bersama mobil yang sedang dipamerkan.
Mungkin bagi para pengunjung itu merupakan sebuah hal yang menguntungkan, sekalian cuci mata. Namun, bukankah pameran mobil menjual mobil – mobil terbaru bukan untuk memamerkan perempuan – perempuan seksi.
Eksploitasi. Sebuah hal yang mendorong terjadinya pro kontra bagi para pelaku periklanan, pemasar dan masyarakt umum. Biar bagaimanapun. Penyajian media komunikasi seharunya mengindahkan etika social ketimuran yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Norma – norma social menjadi daya ukur dalam menilai pantas atau tidaknya setiap materi promosi khususnya periklanan yang disajikan setiap harinya kepada masyarakat. Pengaruh media massa sebagai saluran promosi sangatlah besar bagi kehidupan bermasyarakat.
Keberadaan Konsumen
Dijelaskan dalam Undang – undang Perlindungan Konsumen no. 8 tahun 1999, Konsumen adalah setiap pemakai barang / jasa yang tersedia dalam masyarakat baik kepentingan sendiri, keluarga, orang lain dan makhluk hidup lain bukan untuk diperdangangkan.
Keberadaan konsumen sebagai target pemasaran melalui alat promosinya seharusnya lebih dihargai dengan penyajian promosi melalui periklanan yang lebih cerdas dan lebih memahami karakter konsumen yang berada di wilayah kebudayaan timur yang masih memegang nilai, norma dan etika.
Penempatan perempuan sebagai alat promosi dengan prioritas keindahan dan kemolekan tubuh menjadi nilai yang tidak produktif. Hal tersebut dikarenakan bukanlah ruang informasi yang cerdas dengan kemampuan komunikasi yang gemilang.
Penyajian promosi dengan mekanisme periklanan diarahkan untuk mengedukasi konsumen mengenai produk dan memiliki tanggung jawab moral. Bukan hanya menjual tanpa bertanggung jawab atas efek negative yang timbul dari sudut kontradiktif pesan.
Peraanan konsumen harus lebih diprioritaskan melalui ruang – ruang komunikasi yang memiliki legalitas terpadu. Lembaga swadaya masyarakat yang berkiprah dalam perlindungan konsumen harus mampu memfasilitasi apresiasi dan aspirasi konsumen.
Melalui peranan lembaga tersebut dengan dukungan pemerintah melalui perangkat perundang-undangannya, konsumen harus dilindungi dari materi promosi khususnya periklanan yang memiliki dampak negative. Apalagi, media massa dapat diakses dengan mudah oleh anak – anak.
Dapat dikatakan, iklan – iklan yang menjual perempuan sexy dengan mempertontonkan kemolekan tubuhnya haruslah dipertimbangkan dengan sebaik – baiknya.
(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.bonaparte_france@yahoo.com)

Pemilih adalah Konsumen ( Analisa Dalam PILKADA DKI JAKARTA )

SATU
Pemilihan Kepala Daerah tingkat propinsi DKI Jakarta yang dilangsungkan pada tanggal 8 Agustus 2007 menjadi sorotan publik seantero Nusantara. Hal ini menjadi sebuah fenomena hangat karena DKI Jakarta merupakan miniatur kehidupan masyarakat Indonesia dengan status administrative sebagai Ibukota Republik Indonesia.
Kedua pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat di hati dan pikiran masyarakat Jakarta sebagai target pemilih.
Beragam aktifitas kampanye telah dijalankan oleh masing – masing calon resmi jauh – jauh hari sebelum agenda politik ini resmi ditetapkan, baik itu melalui kegiatan sosial, temu kader hingga perang wacana di media yang berkaitan dengan membangun Kehidupan Jakarta yang lebih baik.
Dapat dikatakan bahwa para tim sukses kedua pasangan CAGUB dan CAWAGUB menjadikan pasangan tersebut bak sebuah produk yang dipasarkan secara gencar untuk mendapatkan suara pemilihan yang besar secara kuantitas dengan menjadikan masyarakat Jakarta sebagai konsumen potensial untuk memenangkan agenda politik dan kepentingan mereka.

DUA
Masyarakat Jakarta dalam kancah perpolitikan nasional dan daerah merupakan asset potensial dalam melanggengkan kekuasaan politik bagi organisasi politik dalam hal ini adalah partai politik.
Dalam pemilihan Kepala Daerah tingkat propinsi, masyarakat Jakarta merupakan konsumen potensial yang memiliki kemampuan praktis dalam pemenangan agenda politik para CAGUB dan CAWAGUB.
Namun, fenomena baru terangkat ke dalam opini public dengan adanya pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya (GOLPUT) dalam PILKADA DKI JAKARTA. Hal ini menjadi sorotan serius karena jumlahnya yang melibihi lima ratus ribu suara.
Pemilih dalam hal ini konsumen produk politik telah memiliki pandangan dan pengetahuan yang mencukupi untuk menentukan kepada siapa mereka menyerahkan nuraninya dan menentukan siapa pemimpin yang benar – benar mampu mewakili aspirasi mereka.
Aspirasi ini merupakan naturaly desires setiap individu yang merupakan motivasi berkehidupan setiap manusia. David Mc Kalland dalam teorinya mengatakan bahwa dalam diri manusia ada tiga tingkatan keinginan yaitu Need of Achievment ( keinginan berprestasi ), Need of Affiliation ( keinginan untuk berafiliasi ), dan Need of Power ( Keinginan untuk berkuasa ).
Masyarakat Jakarta terus menerus melihat kemampuan dan keinginan setiap pasangan CAGUB dan CAWAGUB dalam memaparkan visi misi dan program kerja yang berusaha membangun kehidupan lebih baik dari saat ini di Jakarta khususnya sebagai stimulus untuk menjatuhkan pilihannya ( Need of Affiliation ).
Para pemasar produk politik PILKADA DKI JAKARTA dalam hal ini adalah team sukses yang berperan sebagai back stage actor memanfaatkan unsur dalam diri manusia untuk membangkitkan motivasi dan kesadaran pemilih. Membangkitkan aware masyarakat dengan penggunaan atribut bahasa dan penggunaan karakter simbolik yang berkaitan langsung dengan emosi dan kultur masyarakat.
Salah satu CAGUB memaparkan bentang masalah kehidupan Jakarta yang pelik sebagai salah satu strategi kampanyenya. Freud seorang ahli pisko analisa yang hingga saat ini teori-teorinya masih langgeng digunakan memaparkan bahwa peranan awareness dan prilaku manusia dipengaruhi oleh id, ego dan super ego yang saling berkait dalam diri manusia.
Bentang masalah pelik yang dipaparkan merupakan stimulus yang dipaksakan untuk memancing kesadaran masyarakat serta diupayakan sedemikian rupa mampu membangun situasi moral dalam benak dengan visualisasi yang dramatis.
Namun adanya masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya merupakan fenomena menarik yang harus diperhatikan oleh para team sukses dalam mempertmbangkan strategi kampanyenya.
Efektifitas komunikasi dan pembangunan ruang ruang kesadaran dengan penggunaan stimulus melalui pendekatan nilai, moral dan kultur terkadang hanya membangkitkan interupsi kesadaran bagi para pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya karena kekecewaan, ketakutan hingga aura pesimis yang diakibatkan oleh tidak adanya kemauan politik yang logis dari para pemimpin untuk membangun situasi kehidupan yang lebih baik.
TIGA
Fenomena Golput ini merupakan ketidakberhasilan team sukses dalam upayanya menyentuh ruang emosi dan kesadaran para pemilih. Janji – janji politik yang ditebarkan dianggap hanya janji – janji kosong lima tahunan dan hanyalah menjual mimpi.
Mereka ( dalam hal ini pemilih sebagai individu yang ditempatkan sebagai konsumen produk politik ), jengah dengan keadaan yang pada akhirnya menimbangkitkan kesadaran pesimis.
Para team sukses yang berperan sebagai pemasar produk politik menganggap bahwa janji – janji manis masih memiliki nilai jual yang tinggi dalam mendapatkan dukungan politis.
Masyarakat sebagai individu memiliki need for cognition (NCog) alias kecenderungan individu untuk melakukan dan menikmati kegiatan berpikir. Menurut penggagasnya, John Cacioppo dan Richard Petty, orang dengan NCog yang tinggi cenderung mempertimbangkan segala hal sebelum membuat keputusan, mementingkan obyektivitas, terbuka terhadap pengalaman baru, serta menyukai kreativitas dalam berpikir.
Harus disadarai bahwa semenjak bergulirnya reformasi dengan kran informasi yang mengucur deras, kesadaran masyarakat dengan peningkatan Need of Cogition ( NCog) semakin meningkat ditandai dengan adanya fenomena politik adanya GOLPUT di setiap pemilu.
Obyektifitas dan kampanye yang logis lebih diutamakan dalam momentum drama politik dibandingkan hanya menjual mimpi – mimpi dan janji politik yang sudah usang dimakan zaman.
(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.bonaparte_france@yahoo.com)

bang yos : branding

Masa pemilihan umum untuk legislatif dan eksekutif di Indonesia masih sangat jauh. Satu tahun lebih ke depan baru akan dilangsungkan. Namun, bagi para politisi baik personal maupun yang memiliki mesin politik, sudah saatnya untuk melakukan konsolidasi terpadu dalam menggerakan struktur organisasi dan program kerjanya untuk pemenangan pemilu di ruang politik bagi selurh rakyat Indonesia.
Sutiyoso selaku Gubernur DKI Jakarta yang akan digantikan oleh wakilnya Fauzi Bowo sudah mendeklarasikan pencalonan dirinya sebagai Bakal Calon Presiden Republik Indonesia untuk pemilihan umum 2009.
Melalui mesin birokrasinya, Bang Yos yang menjadi panggilan akrab mantan Pangdam Jaya di era Orde baru ini telah melancarkan program campaign-nya. Didengungkan melalui iklan layanan masyarakat dari Biro Humas dan Protokoler DKI Jakarta bahwa ia selaku Gubernur DKI Jakarta selama dua periode merupakan sosok pembangun yang solutive bagi Jakarta.
Menurut Maria Wongsonagoro direktur IPM yang dikutip dari buku Effective Branding Konsep dan Aplikasi Pengembangan Merek yang Sehat dan Kuat (Soehadi, 2005: 62), personal branding sebenarnya adalah upaya untuk membangun dan menanamkan persepsi positif untuk mendapatkan dukungan.
Iklan layanan masyarakat ini pun secara tidak langsung menjadi salah satu strategi untuk membangun personal branding bagi Bang Yos. Efek yang diharapkan dari iklan tersebut adalah menangkap simpati masyarakat untuk mendukung dirinya di pemilu mendatang. Melalui penayangan kesuksesan dengan dukungan copy writenya, pesan yang timbul sangat positive dan berkesan baik sebagai tokoh yang patut untuk dipilih.
Maka, untuk selanjutnya adalah bagaimana khalayak sebagai target audience media massa menyikapi kampanye yang sudah dilancarkan oleh Founding Father Persija Ini.
(eginamakoe.medkoadkomunika.X-Pressi Class.bonaparte_france@yahoo.com)