Lakukan Sesuatu Hingga Tuntas

Saya pernah bertemu dengan seorang kawan lama, yang merupakan salah satu orang terbaik dalam kehidupan ini.
Ia menjadi sahabat yang selalu memotivasi eginamakoe dalam keseharian, terutama masa-masa di kampus.
Pernah ia mengatakan sesuatu, “yang ga mungkin di dunia ini adalah memakan kepala sendiri” ujarnya.
Ya, semua ada kemungkinan untuk dilakukan. Permasalahan sesulit apapun memiliki solusinya.
Sesuai dengan kata-kata dari Napoleon Bonaparte yakni “tidak ada yang tidak sulit, tetapi tidak ada yang tidak mungkin”.
Ujungnya adalah, bagaimana kita mampu melakukan dan menghadapi sesuatu hingga tuntas.

Menjadi Manusia Jujur

Menjadi pribadi yang sempurna memang sangat sulit, dan sudah digariskan bahwa tidak ada manusia sempurna.

Yang perlu ditelaah adalah bagaimana menjadi pribadi yang memiliki citra positif, bukan public enemy ataupun “biasa-biasa” saja.

Sebagian besar orang, berusaha menjadi pribadi yang disukai banyak orang. Memaksakan untuk “masuk” ke lingkungan dengan mengikuti kebiasaan kolektif namun terkadang lupa akan kemampuannya.

Hal tersebut seringkali menjadikan konflik internal sebagai stimulus yang mendorong ketidakseimbangan.

Akhirnya, derita personalah yang dirasakan.

Yang diperlukan adalah menjadi Pribadi yang Jujur. Tidak memaksakan dan juga tidak menjauhi.

Yang dilupakan, biasanya, seseorang hanya ingin masuk ke sebuah “lingkungan” tanpa sebelumnya mengenali lingkungan tersebut.

median konflik dalam meningkatkan kematangan berfikir

Konflik yang menjadi media dalam meningkatkan kesadaran berfikir seseorang. Terjadinya pergesekan, perbenturan dikala berhadapan langsung dan pada akhirnya terjadi tekanan – tekanan pada seseorang.

Kesadaran berfikir seseorang memang harus dibangkitkan oleh stimulus baik itu positif maupun negatif yang seharusnya mampu difilter untuk terciptanya rangkaian prilaku yang berdampak baik bagi dirinya maupun orang lain.

Kematangan berfikir seseorang bisa tercipta oleh tekanan – tekanan tersebut karena masing – masing pribadi “dipaksa” oleh keadaaan untuk meningkatkan kemampuan berfikirnya dalam sekejap yang diarahkan untuk membentuk solusi terbaik.

 

susahnya berkata tidak

Apakah salah ketika kita tidak mampu mengucapkan kata tidak disaat pertemanan telah berjalan sekian lama.
Sebagai insan yang terlahir dengan hati, dibiasakan untuk bertepa salira, memang, kata tidak menjadi tabu kala sahabat butuh pertolongan, teman minta bantuan walaupun kadang kenyataannya diri kita sendiri pun perlu dibantu.
Kenyataannya, ketika kata tidak telah terucap, maka lahirlah permusuhan yang tak disangka.
Pastinya, hampir kita semua pernah merasakan hal tersebut.

Koalisi Hati

Gaduh riuh masalah koalisi yang diselesaikan berdasarkan nilai transaksi, tak berbeda jauh dengan masalah persona setiap orang.
Dalam keseharian, dunia kerja, bermasyarakat, bicara hati adalah bicara kepentingan.
Berteman dan berbisnis sebenarnya tidak berbeda jauh. Tentunya ada unsur kepentingan persona yang mewarnai konteks hubungan antar persona.
Contoh riilnya adalah “ehm, gue ga cocok dengan dia..”, ” kayanya kita dah ga sejalan lagi deh”, atau yang terparah “ah dia maunya menang sendiri”.
Ya, kita sebagai individu yang memiliki “perasaan” dan “logika” pastinya memiliki perbedaan.
Dan tentunya kita memiliki kepentingan. Jadi, tidaklah aneh bila dinamika politik saat ini selalu dilandasi azas kepentingan, tapi yang harus dicermati adalah sejauh mana kepentingan para elite memfasilitasi kepentingan rakyat banyak.
Ketika para pemilih meletakkan pilihan 5 tahunannya berari tiap-tiap pemilih mengamanatkan kepentingannya terhadap orang yang dipilih.

KENAPA HARUS MERASA KALAH

Kenapa harus kita merasa kalah sebelum berperang.

Perasaan ini lebih sering dialami oleh kita pribadi disaat tantangan berada dihadapan kita. Tantangan yang ada berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Menjadi Pecundang ! Tepatlah ditujukan kepada orang – orang yang berperasaan seperti itu.

Karena, setiap manusia dibekali kemampuan dan kelebihan oleh Sang Pencipta. Kedua hal tersebut pun berbeda antara satu orang dengan orang lainnya yang sebenarnya bisa dioptimalkan dan mendapatkan hasil yang maksimal apabila diri kita ini mengetahuinya dan bisa menggunakannya disaat yang tepat.

Namun, mayoritas, lebih banyak yang menyerah dulu sebelum menjalani tantangan yang ada. Beberapa contoh tantangan yang membuat orang MENJADI PECUNDANG :

1. Promosi Jabatan

2. Ditunjuk untuk menjadi Pemimpin

3. Ditunjuk untuk Presentasi

4. Menghadapi Pernikahan

5. Dan hal keseharian lainnya

Kita harus benar – benar mengetahui lebih mendalam kemampuan dan kelebihan yang kita miliki sehingga, perasaan menjadi kalah (pecundang) akan sina dengan sendirinya.Untuk hal tersebut diperlukannya :

  1. Evaluasi diri pribadi
  2. Banyak waktu untuk mereview kelebihan dan kekurangan yang kita lakukan hari per hari
  3. Konsultasi dengan orang terdekat
  4. Banyak membaca dan mempelajari materi kepribadian dan otobiografi seseorang (tokoh sukses) untuk membangkitkan semangat perubahan
  5. Mengikuti seminar Motivasi

Jadi, KENAPA HARUS KITA MERASA KALAH !!!

NEWSTAINMENT

Program Televisi di Indonesia kini telah memiliki genre baru : NewsTainment. Dimana pengembangan aspek “siaran berita” menjadi materi hiburan yang mengasyikkan, ditunggu dan tentunya mengerek rating dan share stasiun TV.

Kita amati secara seksama, dari pemberitaan mengenai terorisme, bencana alam hingga yang terbaru (november 2009) yaitu PAGELARAN SIDANG MK kasus KPK VS POLRI.

Sebuah hal yang sangat menarik ditengah banyaknya perdebatan mengenai fungsi dan manfaat televisi yang jauh dari sisi edukasi saat program – program tv seperti sinetron dan perhelatan musik yang hanya mempertontonkan kemewahan dan “komoditas tubuh”.

NewsTainment kini menjadi tontonan alternatif, dan penikmatnya pun kini tersebar di seluruh lapisan unsur – unsur S-E-S, Demografi dan psikografi yang ada target audience.

 

Citra – Citra yang Mengikat

Parade CITRA bergerak dengan sangat massif di sekeliling kita. Terpampang di sejumlah media baik cetak maupun elektronik, di sejumlah ruang baik kamar, kantor, jalan hingga toilet, dan di waktu yang tak kenal henti.

Memasok alam pikiran kita untuk mengikuti kata – kata, visual maupun suara yang termuat dalam citra – citra yang ada.

Setiap kita melangkah, himpitan – himpitan citra tersebut mempersempit pemikiran kita. mau tidak mau, kita “terpaksa” untuk menerima pesan yang diinginkan oleh “si pembuat”. Digiring ke area konsumtif dan disisipkan muatan kampanye agar “kita” ini selalu berada dalam genggaman “mereka”.

Nyatanya, ribuan bahkan jutaan “pesan” mampir ke alam sadar kita sebagai sebuah rangsangan bagi perilaku kita. Tindak – tanduk kita seolah – olah mampu dikendalikan seratus persen yang kemudian diremote menurut ke area tindakan yang aktif.

Tinggal, bagaimana kita memperkuat arus subyektif supaya jutaan pesean yang berseliweran disekitar kita bisa terfilter yang kemudian “mekanisme remote” dari produsen (diwakili oleh media /agensi) bisa dipilih dan dipilah sesuai dengan kebutuhan kita.

 

SANTRILOKA

GUS AAN sebagai “pengasuh” Aliran Sesat Ilmu Kalam SANTRILOKA mengaku bertobat, kembali ke Jalan Islam yang benar dan memohon maaf atas segala tindakannya kepada seluruh umat Islam.

Banyak fakta yang terungkap setelah video “pengajiannya” terungkap di media massa. Wejangan Gus Aan yang menjadi kontroversi dan pada akhirnya mendapatkan stempel menyimpang adalah tidak diwajibkannya salat dan puasa bagi umat Islam.

Mengutip dari Detik.com, ” Saya sangat meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan saya”, ujar Gus Aan saat bertemu dengan para wartawan di lobi reskrim  Mapolres Mojokerto.

Menjadi sebuah hal yang memprihatinkan, disaat bangsa Israel sedang mengoyak bumi Palestina dan melakukan penyerangan terhadap Masjidil Aqsa, Bangsa kita dihebohkan oleh kasus Gus Aan dengan SANTRILOKANYA.

Kemanakah arah gerakan umat Islam di Indonesia yang nyata – nyata sebagai salah satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Apakah memang, para pemimpin Islam, para Imam, dan pimpinan lembaga keislaman tak mampu mengontrol wacana publik dan menjaga keaslian ajaran Islam kepada kaum muslim Indonesia.

Nyatanya, banyak kasus penyimpangan ajaran di negara kita ini.

Masyarakat Virtual

Tampaknya, seiring dengan perkembangan teknologi, hubungan antar manusia berubah dengan sangat drastis. Pertemuan tatap muka antar manusia yang biasanya menjadi salah satu proses sosial kini telah tergantikan oleh medium elektronika seperti telepon / handphone dan internet dengan keunggulan fitur surat elektronika (email),  chit chat melalui yahoo messenger & Gtalk hingga jejaring sosial seperti friendster, facebook dan twitter.

Bukan lagi FACE TO FACE tetapi fenomenanya adalah FACE TO MONITOR.

Seringkali kita melihat seseorang yang sedang berhadapan dengan Layar Monitor (baik PC maupun HP) seakan memiliki dunianya sendiri. Tertawa, Sedih bahkan ekspresinya pun merupakan sebuah sensasi yang menakjubkan di saat ia sedang melakukan “komunikasi Virtualnya”.

Dunia sudah tak berjarak. Dimanapun, seseorang bisa berbicara, bercerita, marah dan sedih. ” Tidak ada” dihadapan tetapi “ada” dalam situasi yang dibangun medium berbasis teknologi.

Perubahan pun terjadi. Masyarakat sekarang menjadi masyarakat virtual. Masyarakat yang menghuni fantasinya, dengan gelombang sebagai medium penyampai pesan, keinginan bahkan hasrat.

Sudah tidak jamannya berkirim surat, kartu pos hingga membakar kemenyan untuk mengabarkan suatu hal pada orang di luar diri kita.

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.